Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Alasan Mengapa Bulan Suro atau Muharam Tidak Disarankan untuk Menikah Menurut Islam

Tina Mamangkey • Rabu, 19 Juli 2023 | 13:12 WIB
Ilustrasi bulan Muharam. (Joonas Kaariainen/Pexels)
Ilustrasi bulan Muharam. (Joonas Kaariainen/Pexels)

GORONTALOPOST - Mitos larangan menikah di Bulan Suro atau Muharam masih diyakini oleh banyak masyarakat Indonesia, terutama yang beragama Islam.

Sebagai gantinya, mereka memilih untuk berdoa, tahlil, dan melakukan amalan lain.

NU sempat membahas larangan menikah di Bulan Suro.

Mitos ini mencakup berbagai hal, termasuk keyakinan bahwa menikah di Bulan Muharam akan membawa kesukaran hidup seperti utang dan kesialan.

Selain itu, ada juga kepercayaan bahwa bepergian jauh di bulan ini akan mengundang malapetaka.

Namun, pandangan Islam lebih menyarankan untuk mengadakan pernikahan pada Bulan Besar (Dzulhijjah), Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya'ban, karena bulan-bulan ini dipercaya membawa kebaikan dan keberkahan dalam pernikahan.

Sebagai sunnah yang baik, menikah sangat dianjurkan dalam Islam.

Namun, jika belum mampu melakukannya, berpuasa juga dianjurkan sebagai alternatif yang membawa berkah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah.

Latar belakang larangan menikah di Bulan Suro atau Muharam terkait dengan sejarah duka di dalam Islam, khususnya terkait pembunuhan Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah.

Karena itu, umat Islam memberikan penghormatan dengan menghindari hajatan dan pernikahan di bulan ini. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#Muharam #Tahun Baru Islam #bulan Suro