RADARPAPUA - Upaya penyelamatan terhadap sembilan warga sipil yang diduga dibawa paksa kelompok bersenjata di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, terus dilakukan.
Prajurit TNI telah dikerahkan untuk mengejar kelompok tersebut dan berupaya menemukan serta menyelamatkan para korban.
Komandan Kodim 1710/Mimika Letnan Kolonel Infanteri Jozanda mengatakan pengejaran dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya warga yang dibawa paksa oleh kelompok bersenjata pada Senin (17/8).
Jozanda saat dikonfirmasi di Timika, Rabu malam, mengatakan TNI langsung merespons laporan tersebut dengan mengirim personel ke lapangan.
"Jangan khawatir, kita sudah melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Semoga para prajurit yang melakukan pengejaran ini juga diberikan kemudahan sehingga segera menemukan dan menyelamatkan anak-anak kita ini," ujarnya.
Jozanda mengecam tindakan kelompok bersenjata tersebut. Ia menilai aksi membawa paksa warga, termasuk anak-anak dan perempuan, merupakan tindakan keji dan tidak manusiawi.
Baca Juga: Kian Brutal! Tak Hanya Sandera 9 Perempuan, KKB Bunuh Seorang Ibu Lalu Buang Anaknya ke Jurang
"Kalau bahasa saya itu pembawaan paksa, jadi dipaksa dibawa. Danramil Jila menerima laporan dari masyarakat setempat, ada beberapa warga yang dipaksa dibawa, ada anak kelas III SD, kelas IV SD, kelas VI SD, ada yang umur 18 tahun tiga orang, dan satu orang berumur 17 tahun sedang dalam kondisi hamil muda," ujarnya.
Menurut Jozanda, ketika kelompok tersebut membawa para korban secara paksa, dua orang perempuan yang merupakan ibu dari korban berusaha menolak agar anak-anak mereka tidak dibawa. Penolakan tersebut kemudian berujung pada tindakan kekerasan.
"Ibu itu menolak anaknya dibawa paksa dan akhirnya ibu itu ditembak hingga meninggal ditempat. Kemudian seorang ibu lainnya yang juga menolak anaknya dibawa paksa, dibuang ke jurang dan mengalami patah tulang kaki," ujarnya.
Ibu yang tewas ditembak diketahui bernama Neregingget Magai (48). Sementara ibu lainnya, Inkolung Aim, mengalami patah tulang kaki setelah didorong ke dalam jurang.
"Yang ditembak itu langsung meninggal dunia dan sore itu juga jenazahnya langsung dikremasi. Yang patah tulang ini masih hidup, sekarang sedang menjalani perawatan di Jila. Saya juga belum dapatkan info usianya berapa," ujarnya
Jozanda mengatakan situasi keamanan di Distrik Jila saat ini berangsur kondusif. Namun, akses transportasi penerbangan menuju wilayah tersebut masih belum dapat dilakukan sehingga kondisi geografis menjadi salah satu kendala dalam penanganan dan evakuasi.
Berdasarkan informasi yang diterima dari masyarakat, kelompok bersenjata yang diduga membawa paksa sembilan warga sipil tersebut diperkirakan berjumlah sekitar 15 orang. TNI masih melakukan investigasi untuk mengetahui asal kelompok tersebut.
"Untuk kelompok ini dari mana, kami sedang melakukan investigasi. Nanti saya informasikan lagi. Dan lebih penting, ini kelompok baru karena bahasanya berbeda dengan masyarakat di sana," ujarnya.
Sembilan warga sipil yang dilaporkan dibawa paksa tersebut yakni Nemerina Wamang (17) yang sedang dalam kondisi hamil muda, Alin Mesawarol (pelajar kelas VI SD), Nopi Aim (pelajar kelas IV SD), Opinte Meswaro (pelajar kelas III SD), Yonita Senawatme (18), Meria Nibilingame (15), Wena Katagame (18), Ilimin Onawame (18), dan Miante Nibilingame (13).
Hingga kini, prajurit TNI masih melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata tersebut dengan tujuan menemukan keberadaan para korban dan memastikan keselamatan sembilan warga yang dibawa paksa dari wilayah Jila. (ant)
Editor : Tina Mamangkey