Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Waspada, Sanitasi Air yang Buruk Penyebab Water-Borne Disease Tingkatkan Kerentanan Masyarakat Terhadap Covid-19

Axel Refo • Selasa, 23 Juni 2020 | 15:37 WIB
Yemima Meidiyanti*)
Yemima Meidiyanti*)
RadarPapua - KABUPATEN Manokwari terletak di kepala burung Pulau Papua dan merupakan ibu kota Provinsi Papua Barat. Dengan status sebagai ibu kota Provinsi tentunya menjadi daya tarik yang cukup menjanjikan bagi daerah-daerah sekitarnya sehingga dapat menyebabkan peningkatan arus urbanisasi yang secara langsung berdampak pada peningkatan jumlah pendududuk kota.

Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Manokwari, jumlah pendududuk Kabupaten Manokwari pada tahun 2016, 2017, dan 2018 berturut-turut adalah 164.586, 168.852, dan 173.020 jiwa, hal ini membuktikan adanya peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya yang tentunya menjadi salah satu factor utama semakin tingginya volume sampah yang harus dikelola setiap harinya.

Dengan pertambahan jumlah penduduk ini tentunya menaikan tingkat aktivitas masyarakat, peningkatan kawasan pemukiman penduduk, serta berkembangnya kawasan industri yang secara langsung menjadi penyumbang terbesar pencemaran lingkungan di Kabupaten Manokwari khusunya pencemaran di daerah perairan Manokwari. Perairan manokwari merupakan salah satu wilayah pesisir yang telah menjadi daerah pertumbuhan perekonomian dan pemukiman penduduk, diantaranya seperti perhotelan, pusat perbelanjaan serta pemukiman akibat adanya pengembangan Kota Manokwari.

Di sisi lain, tingginya aktivitas manusia tersebut memberikan dampak negatif akibat peningkatan volume sampah yang dihasilkan setiap harinya seperti penurunan nilai estetika lingkungan dan kualitas air yang kian memburuk. Hal ini sangat disayangkan, mengingat air merupakan salah satu aspek terpenting yang tentunya memberikan begitu banyak manfaat dalam kehidupan yang menunjang tidak hanya kehidupan manusia tetapi makhluk hidup lain seperti tumbuhan dan hewan.

Aktivitas manusia seperti minum, makan, mencuci, mandi, dll membutuhkan banyak peranan air sehingga menjaga sanitasi air yang digunakan manusia dan makhluk hidup lain tentunya sangatlah penting dalam menunjang kesehatan dan daya tahan tubuh manusia. Sumber-sumber air yang dimanfaatkan manusia seperti sumur, air hujan, ataupun dari PDAM sekalipun tergolong sangat rentan terkontaminasi senyawa-senyawa polutan berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia.

Jika pola hidup masyarakat Manokwari yang tidak dapat menjaga kebersihan lingkungan hidup dan terus menerus meremehkan tindakan kecil seperti membuang limbah seperti sampah dengan sembarangan, tentunya akan memperburuk status pencemaran lingkungan hidup dengan terus memproduksi limbah yang dapat masuk ke dalam badan air, kemudian akan diserap ke dalam tanah dan mengontaminasi air bersih yang digunakan masyarakat luas untuk dipergunakan dan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari seperti sumur gali atau bor, mata air, dll.

Selain itu air hujan yang terkena tumpukan sampah dapat terkontaminasi kandungan organic yang tinggi yang disebut dengan air lindi. Air lindi selain mengandung kandungan organic yang tinggi juga dapat mengandung unsur logam seperti Zn dan Hg ataupun terkontaminasi bakteri-bakteri pathogen yang dapat menggaggu kesehatan manusia bila terkontak secara langsung. Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Manokwari, produksi sampah dalam sehari kurang lebih dapat mencapai 250 kubik, namun kemampuan daya angkut perharinya hanya sebesar 30% atau 75 kubik, sementara sisanya terpaksa diangkut keesokan harinya.

Hal ini tentunya akan menyebabkan akumulasi sampah dibeberapa titik pembuangan sampah secara berlebihan dan dapat terbawa oleh hujan hingga ke perairan dan berpotensi besar mencemari badan air yang dekat dengan sumur warga. Hal ini terbukti dengan banyaknya sampah yang tergenang di sungai yang melewati kota manokwari bahkan menyumbat beberapa aliran air. Jika terjadi pencemaran badan air, tidak dapat dipungkiri bahwa kemungkinan besar air yang tercemar itu dapat merembes ke sumur warga dan dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada masyarakat yang menggunakan dan mengonsumsinya.

Kebersihan lingkungan merupakan pangkal dari kesehatan, sehingga lingkungan yang kotor dan tercemar tentunya berpotensi tinggi menjadi sumber penyakit bagi masyarkat. Dengan sanitasi air yang buruk karena kontaminasi air oleh zat berbahaya, pencemaran lingkungan tersebut juga dapat memberikan peluang untuk menjadikan badan air sebagai habitat yang optimal bagi pertumbuhan mikroba pathogen. Lingkungan yang tercemar dengan potensi kandungan mikroba pathogen dalam badan air tentunya memberikan dampak yang sangat buruk bagi kesehatan manusia yang dikenal dengan Water-borne Diseases.

Water-borne diseases merupakan dampak negatif dari sanitasi air yang buruk yang menimbulkan suatu penyakit yang ditularkan ke manusia akibat kontak langsung dengan cemaran baik berupa mikroorganisme ataupun zat tertentu pada air. Kerugian akibat Water-borne Disease terjadi pada manusia dan juga berdampak pada lingkungan tempat manusia tinggal. Kontaminasi pada manusia dapat melalui kegiatan minum, mandi, mencuci, proses menyiapkan makanan, ataupun memakan makanan yang telah terkontaminasi saat proses penyiapan makanan (Triyono, 2014).

Menurut data Kabupaten Manokwari tentang presentase konsumsi air minum, penggunaan air dari sumur gali terlindungi sebesar 46,5 persen dari persentase total responden (100 persen), kemudian dari sumur gali tidak terlindungi sebesar 9,8 persen, sumur pompa tangan 6,5 persen, air ledeng PDAM 6,5 persen, air isi ulang 15,5 persen, dan bahkan sebagian kecil masyarakat Manokwari masih menggunakan air hujan untuk kebutuhan hidup, yaitu sebesar 3,8 persen.

Dari data tersebut menjelaskan bahwa masyarakat Kabupaten Manokwari berpotensi terkena penyakit melalui air akibat pencemaran air karena sebagian besar masyarakat Manokwari masih bergantung pada air yang berasal dari sumur galian serta beberapa penduduk memasak dan meminum air yang berasal dari sumur.

Kurangnya sanitasi serta kebersihan diri dan lingkungan yang buruk, berkaitan dengan penularan beberapa penyakit infeksi yaitu penyakit diare, kolera, typhoid fever, dan paratyphoid fever, disentri, penyakit cacing tambang, ascariasis, hepatitis A dan E, penyakit kulit, trakhoma, schistosomiasis, cryptosporidiosis, malnutrisi, dan penyakit yang berhubungan dengan malnutrisi.

Dimasa pandemic seperti sekarang ini, tentunya menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh merupakan hal yang sangat penting bagi diri sendiri sebagai upaya pencegahan penularan terhadap virus Covid-19 serta upaya dalam pemutusan mata rantai penularannya. Dari berbagai penjelasan di atas tentang pencemaran lingkungan sekitar yang berpotensi mencemari badan air sehingga menyebabkan sanitasi air yang buruk dan dapat masuk ke sumur-sumur warga ataupun ke sumber air lainnya yang dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak buruk bagi masyarakat luas untuk terjangkit berbagai penyakit infeksi sehingga dapat menurunkan imun manusia.

Bila masyarakat terus mengonsumsi air dengan sanitasi yang buruk tentunya akan terjadi akumulasi senyawa-senyawa berbahaya ataupun masuknya bakteri-bakteri pathogen dalam tubuh sehingga secara langsung mengganggu segala proses metabolisme tubuh dan berpotensi menurunkan daya tahan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh akan sulit untuk melawan berbagai materi asing yang masuk ke dalam tubuh, sehingga tubuh manusia akan lebih mudah terjangkit berbagai penyakit salah satunya dapat terinfeksi virus Corona yang menyebakan berbagai penyakit yang dapat mengancam nyawa manusia.

Lingkungan yang tercemar dengan sanitasi air yang buruk memberikan berbagai macam dampak negatif bagi lingkungan maupun makhluk hidup khususnya bagi kesehatan dan berpotensi menurunkan kekebalan tubuh manusia. Seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah tentunya lebih rentan tertular virus Corona sehingga selain menjaga diri dengan mematuhi segala protokol kesehatan yang ditetapkan, menjaga kebersihan lingkungan sekitar juga merupakan hal yang sangat penting sebagai langkah awal dalam penerapan hidup sehat dan bersih.

Lingkungan yang bersih dan sehat tentunya akan mendukung terbentuknya imun tubuh yang baik dalam menangkal berbagai macam penyakit disekitar kita. Salah satunya dengan menjaga sanitasi air yang digunakan untuk keperluan sehari-harinya dalam kondisi baik dan sehat serta ikut berpartisipasi dalam melakukan gerakan pola hidup hidup sehat dengan lingkungan yang bersih dan terhindar dari pencemaran.(*)

*) Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta. Editor : Axel Refo
#manokwari #DLH #papua barat #BPS