Jenderal Dudung Benar, Allah Pasti Bukan Orang Arab, Logika Silogisme Kategorik
Administrator• Jumat, 3 Desember 2021 | 18:37 WIB
Tangkapan layar Ade Armando dalam saluran Channel YouTube Logika Ade Armando.RADARPAPUA.ID - Jenderal Dudung Abdurachman sedang ramai dibicarakan. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini mengatakan, “Tuhan kita bukan orang Arab!”. Berikut penjelasan lengkap Penggiat Media Sosial Ade Armando, yang juga Dosen Komunikasi Universitas Indonesia, dalam saluran Channel YouTube Logika Ade Armando. Menurut Ade, ucapan yang akurat itu langsung disambut dengan beragam komentar negatif. Oleh sejumlah tokoh Islam, ucapan Dudung itu disebut ‘keliru, kacau, salah besar, penistaan agama’. Buat saya sih, lagi-lagi ini menunjukkan ada persoalan serius dalam kemampuan berlogika para panutan umat Islam di Indonesia. Pernyataan Dudung itu kan sangat sederhana. Karena itu, penghakiman yang sangat menyudutkan itu hanya bisa datang dari kekacauan berpikir yang akut. Kita kembali saja pada logika dasar yang melandasi pernyataan Dudung. Dudung menyampaikan kalimat itu pada saat diwawancara Deddy Corbuzier di talkshow kanal YouTubenya. Dudung bercerita soal cara dia berdoa. Menurutnya, kalau dia berdoa setelah salat, doanya simple saja, dengan menggunakan Bahasa Indonesia. “Saya menggunakan Bahasa Indonesia karena Tuhan kita kan bukan orang Arab,” ujar Dudung. Dia menambahkan: “Doa saya sederhana, ya Tuhan ya Allah, saya ingin membantu orang, saya ingin menolong orang. Itu saja doa saya. Itu saja.” Penjelasan sang Jenderal sangatlah masuk akal. Dalam penafsiran saya, dia ingin mengatakan bahwa komunikasi dengan Tuhan itu sederhana. Gunakan saja Bahasa yang biasa kita gunakan. Tidak usah capek-capek berdoa dengan Bahasa yang tidak kita kenal. Tuhan itu Maha Besar dan Maha Tahu kok. Dia tentu paham kalau kita berbicara padanya dengan Bahasa ibu kita sendiri. Perlu dicatat ya, bahwa Dudung mengatakan doa berbahasa Indonesia itu dia ucapkan seusai salat. Jadi doa dalam salatnya tetap dalam Bahasa Arab, tapi doa sesudah solatnya dalam Bahasa Indonesia. Buat Anda yang bukan muslim, perlu saya jelaskan ada tradisi dalam ibadah umat Islam bahwa setelah selesai salat, masih ada doa-doa tambahan. Nah tambahan doa-doa ini bisa sangat Panjang. Dan banyak diantaranya harus dihapal dalam Bahasa Arab. Seringkali sebenarnya umat Islam yang membacanya pun tidak paham artinya. Tapi ya karena dianggap lebih bernilai kalau dibaca dalam Bahasa Arab, jadinya banyaklah muslim yang mempraktekkan baca doa berbahasa Arab semacam itu. Dudung bersikap berbeda. Dia bilang kalau Tuhan toh mengerti Bahasa Indonesia, kenapa doanya tidak diucapkan dalam Bahasa Indonesia saja. Sangat sederhana. Tapi itu saja sudah cukup menimbulkan aneka komentar yang terkesan mengandung kemarahan. Salah satu ulama yang berkomentar adalah Shamsi Ali, orang Indonesia yang kini menjadi imam di Islamic Center New York, Amerika Serikat. Melalui Twitternya, Shamsi menyatakan apa yang disampaikan Dudung itu keliru. Menurutnya Tuhan memang pastinya bukan orang Arab. Jadi, Tuhan tidak dibatasi oleh kebangsaan/etnis/ras. Shamsi menyatakan Tuhan tidak perlu dikaitkan dengan etnis dan bangsa tertentu. “Bapak Jenderal berdoa pakai bahasa apa saja tidak masalah,” kata Shamsi, “Tapi tidak perlu Tuhan dikaitkan dengan etnis atau bangsa.” Celotehnya lagi, “Tuhan bukan orang Arab, bukan Melayu, bukan India, bukan Afrika, dan juga bukan Nusantara. Tuhan itu Rabbun naas Rabbul alamin. Tuhan alam semesta. Tuhan semua manusia dan bangsa.” Salah seorang politisi lainnya yang mengomel adalah Mustofa Nahrawardaya. Humas Partai Ummat itu menyatakan bahwa pernyataan Dudung itu kacau dan rusak. Dia bilang, dia mendoakan agar Dudung cepat diberi hidayah oleh Allah. Lantas ada pula KH Wafi Maimun Zubair alias Gus Wafi. Di harian Republika, Gus Wafi menghakimi pernyataan Dudung itu sebagai kesalahan besar. “Ucapan tersebut bahkan bisa masuk kategori penistaan agama,” katanya. Menurutnya, dengan mengatakan Tuhan bukan orang Arab, Dudung menganggap Tuhan sebagai orang, tapi orang yang bukan berasal dari Arab. Karena itu, kata Gus Wafi, pernyataan Dudung itu menimbulkan pertanyaan, kalau bukan orang Arab, lantas Tuhan orang mana. Terus terang, buat saya komentar-komentar ini datang dari sikap yang terlalu emosional atau cacat serius dalam logika. Coba dengar pernyataan Gus Wafi, yang mungkin sekali juga melandasi pernyataan Mustofa Nahra. Kata Gus Wafi pernyataan Dudung itu menunjukkan Dudung menyamakan Allah dengan manusia. Kata Gus Wafi, kalau Allah bukan orang Arab, lantas Allah itu orang apa? Ini kan pertanyaan dungu? Yang bilang Allah itu orang siapa? Di bagian mana dari pernyataan Dudung yang menunjukkan bahwa dia menganggap Allah itu orang, tapi bukan orang Arab. Ini kan pelajaran logika biasa. Ada yang namanya silogisme kategorik. Jadi untuk tiba pada konklusi yang masuk di akal, kita harus pelajari premis mayor dan premis minornya. Sebagai contoh, premis mayornya: semua makanan yang mengandung babi haram. Premis minornya: Bacon adalah babi. Maka, konklusinya: bacon haram. Nah sekarang kita gunakan silogisme ini dalam pernyataan Dudung. Premis mayornya: Allah bukan manusia. Premis minornya: Orang Arab adalah manusia. Konklusinya: Orang Arab pasti bukan Allah atau Allah pasti bukan orang Arab. Sederhana, kan? Jadi di mana letak penistaan agama Dudung? Dia bilang, Tuhan bukan orang Arab. Masa itu berarti Tuhan adalah orang! Begitu juga dengan pernyataan Shamsi Ali. Dia bilang Tuhan bukanlah orang Arab, bukan orang Melayu, bukan India, dan seterusnya. Tapi lantas dia bilang, karena itu dia meminta Dudung jangan mengaitkan Tuhan dengan etnis dan bangsa tertentu. Ini logika Shamsi gimana sih? Kan memang Dudung bilang, doa itu tidak harus dikaitkan dengan etnis atau ras apapun. Dudung kan ingin bilang, Tuhan itu berada di atas bangsa dan ras. Karena itu berkomunikasi dengan Tuhan tidaklah harus dengan Bahasa bangsa tertentu. Kurang jelas apalagi sih pernyataan Dudung. Kok malah dipandang keliru? Tapi kalau dipikir ulang, apa yang terjadi sebenarnya adalah cermin pertarungan wacana Islam di Indonesia. Respons Shamsi Ali dan kawan-kawan itu nampaknya datang dari kemarahan mereka ketika ada tokoh seperti Dudung yang dianggap memisahkan identitas kearaban pada Islam. Mereka adalah orang-orang yang percaya pada pentingnya membangun umat Islam Indonesia yang melandaskan diri pada syariah untuk membangun Negara Islam di masa depan. Dan untuk itu, umat Islam menurut mereka harus kembali ke akar Islam, yaitu Islam yang berkembang di tanah leluhur Islam, yakni Arab. Arab di sini dilihat sebagai model budaya yang bersih yang bersebarangan dengan model budaya Barat yang kotor. Mereka adalah orang yang percaya bahwa salah satu penanda muslim yang baik adalah muslim yang serba kearab-araban. Yang tidak lagi mengucapkan selamat pagi tapi ‘Assalamualaikum’. Yang tidak lagi mengucapkan selamat ulang tahun, melainkan ‘Barakallah Fii Umrik’. Yang tidak lagi mengucapkan terima kasih melainkan ‘Jazakallah Khairan’. Yang tidak mengucapkan ‘hari Minggu’, melainkan ‘Abad’. Yang tidak mengucapkan ‘gue lo’, melainkan ‘ana antum’. Ini adalah sebuah gaya hidup yang menggejala. Ketika menjadi Islam seolah berarti menjadi Arab. Ketika Allah seolah hanya paham dengan doa yang disampaikan dalam Bahasa Arab. Karena itu saya mendukung pernyataan Dudung. Tuhan kita semua pasti sama, dan yang pasti Tuhan kita bukan orang Arab. Mari gunakan akal sehat. Karena hanya kalau kita gunakan akal sehat, bangsa ini akan selamat. (cokrotv) Editor : Administrator