Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Bawaslu dalam Bahaya! Kisah Mengerikan Disandera oleh OPM Hingga Tebusan Ratusan Juta!

Richard Lawongan • Rabu, 8 Mei 2024 | 23:13 WIB
Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah (Kiri). Kelompok Kriminal Bersenjata atau Organisasi Papua Merdeka (Kanan).
Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah (Kiri). Kelompok Kriminal Bersenjata atau Organisasi Papua Merdeka (Kanan).

RADARPAPUA - Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, menghadapi pengalaman yang mengguncangkan ketika mereka disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Cerita dramatis ini diungkapkan oleh Anggota Bawaslu Intan Jaya, Otniel Tipagau, dalam sidang sengketa hasil Pemilu 2024 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Sidang tersebut, yang berlangsung di Jakarta pada Senin (6/5/2024), menjadi panggung bagi Otniel Tipagau untuk menceritakan kisah penyanderaan yang dialaminya dan rekan-rekannya.

Baca Juga: Wow! Temuan Terbaru: Pakaian Ajaib yang Terbuat dari Jamur Bisa Sembuhkan Dirinya Sendiri!

Pemungutan suara di Distrik Homeyo harus ditunda karena insiden tersebut, yang memaksa Bawaslu melakukan pemungutan suara susulan (PSS) pada tanggal 23 Februari 2024, sembilan hari setelah jadwal awalnya.

Otniel menjelaskan bahwa penyanderaan terjadi karena KKB meminta bukti izin masuk wilayah bagi maskapai penerbangan yang menjadi moda transportasi utama ke wilayah pegunungan di Intan Jaya.

"Waktu itu memang terjadi penyanderaan pesawat. Kami pun bernegosiasi karena memang pihak maskapai ini harus punya bukti surat yang ditandatangani oleh OPM agar bisa masuk ke wilayah," kata Otniel.

Baca Juga: Detik-Detik Dramatis! Pangkogabwilhan III Ungkap Rahasia Penumpasan OPM di Distrik Homeyo, Papua Tengah!

Proses pembebasan mereka melibatkan pemberian uang tebusan kepada KKB, dengan jumlah yang signifikan.

"Kami kasih uang," ujar Otniel, diikuti oleh tawa hadirin di ruang sidang, yang mengisyaratkan keseriusan dan juga kesedihan atas situasi yang mereka alami.

Kondisi geografis Intan Jaya yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pemungutan suara.

Otniel menegaskan bahwa meski tidak mengalami penganiayaan, pengalaman disandera memberikan gambaran sulitnya keamanan dan transportasi di wilayah tersebut.

"Memang kalau saya jelaskan, Kabupaten Intan Jaya itu memang mengerikan sekali medannya. Saya waktu itu dicegat dan ditangkap dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore," ujarnya.

Baca Juga: Teror atau Rekayasa? Sindikat Internasional Terkuak: WNA Papua Nugini Bawa Amunisi Ilegal di Perbatasan Papua, Detail Terungkap!

Tindak lanjut atas kejadian tersebut sudah dilakukan, dengan Otniel melaporkannya ke dalam Laporan Hasil Pengawasan (LHP) yang ditujukan kepada pimpinan Bawaslu Intan Jaya, Bawaslu Provinsi Papua, hingga Bawaslu RI.

Dalam kesimpulan, pengalaman dramatis ini menunjukkan tantangan besar dalam menjalankan proses demokrasi di daerah-daerah terpencil di Indonesia, sementara keselamatan dan keamanan anggota Bawaslu serta kelancaran proses demokrasi tetap menjadi prioritas utama. (Nal)

Editor : Richard Lawongan
#papua tengah #Pemungutan Suara Susulan #Penyanderaan #keamanan #Intan Jaya #Tantangan demokrasi #Organisasi Papua Merdeka (OPM) #Bawaslu #kelompok kriminal bersenjata (KKB) #Sidang sengketa Pemilu 2024