Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Desakan Mahasiswa Paniai Jayapura, Amankan Warga Sipil Dari Konflik Di Bibida

Fandy Gerungan • Kamis, 27 Juni 2024 | 09:01 WIB

 

Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Paniai (FKM-KP) menuntut perlindungan masyarakat sipil terkait konfil di Bibida
Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Paniai (FKM-KP) menuntut perlindungan masyarakat sipil terkait konfil di Bibida

RADARPAPUA.ID- Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Paniai (FKM-KP) di Jayapura menggelar konferensi pers untuk menanggapi kondisi masyarakat yang harus mengungsi akibat bentrokan antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB OPM) dan aparat TNI/Polri di wilayah Bibida. Acara ini berlangsung pada Sabtu, 22 Juni, di Asrama Putra Paniai yang terletak di Perumnas III, Waena, Jayapura, Papua.

Hendrik Gobai, yang bertindak sebagai koordinator lapangan, menjelaskan bahwa penduduk Paniai, khususnya di distrik Bibida, Duma Dama, Paniai Timur, dan Dogomo, terpaksa melarikan diri ke beberapa lokasi seperti Nabire, Gereja Katolik Salib Suci Madi, dan Enaro demi keselamatan mereka.

Baca Juga: Masyarakat Adat Usulkan 11 Kawasan Hutan di Papua Diakui Sebagai Hutan Adat

Gobai menekankan pentingnya peran Pemerintah Kabupaten Paniai, TNI/Polri, dan TPNPB OPM dalam menjaga keamanan masyarakat sipil di daerah-daerah tersebut, terutama di distrik Bibida, Dogomo, Duma Dama, dan Paniai Timur.

Mahasiswa FKM-KP Jayapura memberikan penjelasan kronologis mengenai konflik yang memaksa warga sipil mengungsi. Diskusi tentang situasi ini diadakan pada 20 Juni 2024 di Asrama Putra Paniai, Perumnas 3 Waena. Ketegangan di Paniai memuncak dengan insiden seperti pembakaran rumah warga sipil, gedung SD YPPGI Kepas Kopo, dan pendudukan RSUD Madi oleh militer.

Pendudukan RSUD Madi mengakibatkan pasien dan tenaga medis dipulangkan secara paksa, yang menyebabkan beberapa pasien meninggal karena kehilangan perawatan medis. Situasi di RSUD Madi kembali stabil setelah koordinasi antara pemerintah daerah, pihak RSUD, dan TNI/Polri.

Baca Juga: Mansorandak: Upacara Adat Suku Doreri di Papua Barat

Serangkaian peristiwa ini terjadi selama dua hari, yaitu pada 22-23 Mei 2024. Pada 11 Juni 2024, TPNPB-OPM membakar sebuah mobil bersama sopirnya. Pada 11-13 Juni 2024, TNI/Polri mengejar TPNPB menuju distrik Bibida, yang memicu bentrokan antara TPNPB-OPM dan TNI/Polri pada 14-17 Juni 2024. Selain itu, pada 14 Juni 2024, TNI/Polri menggunakan drone dan helikopter untuk memantau aktivitas TPNPB-OPM di distrik Bibida, menyebabkan 980 warga sipil mengungsi ke Gereja Katolik Santo Salib Suci Paroki Madi.

Insiden ini mengakibatkan kematian satu warga sipil, Philemon Gobai, dan satu anggota TPNPB-OPM, Danis Murib. Seorang warga lainnya, Dumbuga Gobai, mengalami luka tembak. Jumlah pengungsi yang tercatat adalah 159 perempuan, 115 laki-laki, dan 216 anak-anak. Mereka tersebar di sembilan lokasi di Kabupaten Nabire dan ibu kota Provinsi Papua Tengah. (*)


 
Editor : Fandy Gerungan
#tni polri #tpnpb opm #Mahasiswa