RADARPAPUA.ID- Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw, menegaskan pentingnya menjaga ekosistem mangrove di wilayahnya. Teluk Bintuni memiliki kawasan mangrove terbesar di Asia Tenggara, dan yang terbesar kedua di dunia setelah Amazon. Pada Rabu, 26 Juni 2024, di Manokwari, Petrus Kasihiw menyatakan bahwa keberadaan mangrove yang luas dan bervariasi di Bintuni memiliki peran krusial.
Menurut Kasihiw, perubahan pada ekosistem mangrove di Teluk Bintuni dapat berdampak besar hingga mempengaruhi kondisi air tanah bahkan sampai ke Australia. Mangrove di wilayah ini juga berfungsi sebagai pelindung lingkungan yang sangat penting. "Mangrove melindungi kita dari bencana alam seperti ombak dan abrasi, serta berkontribusi dalam menyediakan oksigen," ujarnya.
Baca Juga: Tragedi Pengungsian Di Paniai, LBH Papua Mendesak Penerapan Konvensi Jenewa IV
Petrus Kasihiw telah melakukan penelitian mendalam mengenai konservasi mangrove yang menjadi bagian dari disertasinya di bidang Ilmu Lingkungan di Universitas Papua (UNIPA) Manokwari. Dalam penelitian tersebut, ia menekankan pentingnya menjaga mangrove dari perspektif ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan. "Keempat aspek ini harus dijaga bersama untuk mencegah kepunahan mangrove. Jika mangrove rusak, maka ikan dan kepiting juga akan hilang," jelasnya, seraya menambahkan bahwa hasil akademis ini akan diupayakan menjadi kebijakan yang konkret.
Selain itu, Kasihiw menekankan bahwa ketergantungan pada sumber daya minyak dan gas alam (migas) sebaiknya tidak dijadikan kebanggaan semata. Ia mengingatkan bahwa migas adalah sumber daya yang terbatas, sementara menjaga hutan dan mangrove adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Dalam penelitiannya, ia menghitung dampak kerusakan mangrove terhadap populasi udang dan kepiting, yang menunjukkan kerugian signifikan.
Dalam upaya mendorong perekonomian lokal, Bupati Kasihiw juga mendukung masuknya perusahaan pengalengan ikan, udang, dan kepiting di Teluk Bintuni. Ia berharap bahwa masyarakat adat setempat akan menjadi pemasok utama bagi industri ini. "Masyarakat adat tidak perlu lagi menjual hasil laut mereka ke luar daerah atau memberikan konsesi kepada pihak luar. Mereka sendiri yang harus mengelola dan menyediakan hasil laut langsung ke industri di Bintuni," kata Kasihiw.
Baca Juga: Membangkitkan Ekonomi Kreatif Di Kabupaten Asmat Melalui Festival Sagu
Perusahaan pengalengan tersebut diresmikan secara simbolis oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada kunjungannya ke Teluk Bintuni pada Juli 2023. Selain meresmikan pabrik pengolahan makanan kaleng Bio Bintuni, Ma’ruf Amin juga meresmikan tugu peradaban Islam di Distrik Babo. "Produk kepiting dan udang kaleng Bio Bintuni sudah ada, meskipun saat ini belum beroperasi penuh, namun telah diresmikan oleh Pak Wapres," tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga berkomitmen untuk mengoptimalkan pemanfaatan hutan secara ekonomis bagi masyarakat setempat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, Teluk Bintuni memiliki beragam jenis hutan dengan total luas yang signifikan, termasuk Hutan Lindung, Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam, serta berbagai jenis Hutan Produksi.
Wakil Kepala Suku Besar Moskona, Simon Orocomna, menegaskan pentingnya menjaga kawasan hutan, terutama yang berada dalam kategori hutan lindung dan konservasi. "Hutan harus dilindungi oleh pemerintah dan seluruh masyarakat Teluk Bintuni," ujarnya. Orocomna memperingatkan bahwa pengabaian terhadap perlindungan hutan dapat menyebabkan bencana alam seperti banjir dan longsor. "Seluruh kawasan hutan dari Bintuni hingga Moskona harus dijaga dengan baik," tutupnya. (*)
Editor : Fandy Gerungan