Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Mentan Amran Pastikan Stok Beras Nasional 3,3 Juta Ton Tetap Aman di Tengah Curah Hujan Tinggi

Prisilia Rumengan • Minggu, 8 Februari 2026 | 15:16 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan produksi dan stok pangan nasional tetap dalam kondisi aman meskipun sejumlah daerah menghadapi curah hujan tinggi pada awal 2026.

Pemerintah, kata dia, telah mengantisipasi berbagai risiko cuaca melalui pengendalian produksi, pemantauan stok, hingga respons cepat di tingkat lapangan.

Dalam keterangannya di Jakarta, Amran mengungkapkan stok beras nasional per Januari 2026 mencapai 3,3 juta ton.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Capaian ini dinilai sebagai indikator kuat bahwa sistem ketahanan pangan nasional masih stabil meskipun dinamika iklim terus terjadi.

“Insya Allah tidak berpengaruh sama sekali. Stok kita sekarang 3,3 juta ton. Itu tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ujarnya.

Selain stok yang melimpah, Kementerian Pertanian juga mencatat peningkatan signifikan pada serapan beras pemerintah.

Jika pada Januari tahun lalu hanya sekitar 14 ribu ton, kini melonjak menjadi 112 ribu ton atau naik sekitar 700 persen. Lonjakan ini menunjukkan distribusi dan penyerapan hasil panen petani berjalan efektif.

Mentan Amran menilai kondisi hujan justru memberi dampak positif bagi sektor pertanian. Ketersediaan air membantu percepatan masa tanam, selama tata kelola irigasi dan drainase berjalan baik.

Tantangan terbesar, menurutnya, justru saat terjadi kekeringan panjang seperti fenomena El Nino.

“Cuaca ini berkah karena mendukung tanam. Tantangan terbesar justru ketika terjadi kekeringan,” tegasnya.

Pemantauan intensif terus dilakukan, terutama di sentra produksi padi di Pulau Jawa. Tiga provinsi utama, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, dilaporkan masih dalam kondisi aman dengan produktivitas yang stabil.

Meski terdapat genangan dan banjir di beberapa lokasi, pasokan beras nasional belum terdampak signifikan.

Untuk memperkuat langkah mitigasi, Kementan memanfaatkan data prakiraan cuaca dari BMKG sebagai dasar kebijakan. Pendekatan ini memungkinkan potensi gangguan diantisipasi lebih awal.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bahkan turun langsung ke lapangan meninjau sawah yang terdampak genangan di Kabupaten Bekasi dan Karawang.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Yudi Sastro memimpin peninjauan sekaligus meminta dinas daerah segera mengajukan bantuan benih bagi petani yang harus melakukan tanam ulang.

Bantuan tersebut diprioritaskan untuk mencegah gagal panen dan menjaga kesinambungan produksi.

Selain itu, pemerintah daerah juga diminta mempercepat normalisasi saluran air dan perbaikan irigasi sebagai solusi jangka menengah dan panjang.

Menurut Kementan, penguatan tata kelola air, koordinasi lintas instansi, serta respons cepat di lapangan menjadi kunci menjaga stabilitas stok beras, produksi pangan, ketahanan pangan nasional, dan petani padi tetap terlindungi di tengah perubahan iklim.

Dengan kombinasi stok tinggi, serapan meningkat, serta intervensi cepat pemerintah, optimisme terhadap ketersediaan pangan nasional pada 2026 pun tetap terjaga.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#padi #amran sulaiman #stok beras #mentan #produksi beras #Kementan #cuaca hujan #Lumbung #Beras