Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kementerian Pertanian Catat Lonjakan Produksi Tebu 39 juta Ton Dorong Target Swasembada Gula 2027

Prisilia Rumengan • Minggu, 8 Februari 2026 | 15:27 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Kementerian Pertanian mencatat capaian positif sektor tebu dan gula nasional sepanjang 2025.

Evaluasi akhir musim giling menunjukkan produksi gula nasional menyentuh 2,67 juta ton atau setara 97,54 persen dari target tahunan.

Angka tersebut memperlihatkan tren kenaikan produksi dalam negeri sekaligus menjadi fondasi penting menuju swasembada gula.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, pemerintah kini fokus menguatkan seluruh rantai produksi, mulai dari budidaya tebu di tingkat petani hingga efisiensi industri pengolahan gula.

Menurutnya, swasembada gula bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan strategis untuk mengurangi ketergantungan impor.

“Swasembada gula adalah keharusan. Kami memperkuat produktivitas tebu, memperluas areal tanam, menyediakan benih unggul, dan melakukan modernisasi pabrik gula,” ujar Amran dalam keterangannya.

Data Kementan menunjukkan produksi tebu nasional pada 2025 mencapai 39,07 juta ton dengan produktivitas rata-rata 69,35 ton per hektare.

Capaian ini bahkan melampaui target Rencana Strategis Perkebunan. Peningkatan tersebut disebut sebagai hasil intervensi pemerintah yang lebih terarah di sektor hulu.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan, program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tua, penggunaan varietas tebu unggul, serta pendampingan teknis intensif menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan produksi.

“Petani sekarang lebih mudah mendapatkan bibit berkualitas dan pendampingan. Itu berdampak langsung pada hasil panen yang lebih tinggi,” katanya.

Dari sisi wilayah, Jawa Timur masih menjadi sentra utama produksi tebu nasional. Kontribusinya disusul Lampung dan Jawa Tengah.

Namun pemerintah juga mulai memperluas pengembangan tebu ke daerah lain seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

Langkah ini dilakukan untuk memperluas basis produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.

Selain penguatan di lahan, pemerintah juga membenahi sektor hilir. Revitalisasi pabrik gula, peningkatan efisiensi mesin, hingga dukungan pembiayaan melalui KUR Khusus Tebu digulirkan agar industri gula nasional semakin kompetitif.

Bantuan alat dan mesin pertanian serta penguatan kelembagaan kelompok tani juga menjadi prioritas.

Roni menilai respons petani terhadap program ini cukup positif. Banyak petani mengaku biaya produksi lebih efisien dan hasil panen meningkat, sehingga pendapatan mereka ikut terdongkrak.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan, hingga efisiensi industri. Namun pemerintah optimistis target produksi gula 3,27 juta ton pada 2027 sesuai roadmap nasional dapat tercapai.

Dengan tren peningkatan produksi tebu dan gula yang konsisten, Kementan berharap kebutuhan konsumsi gula nasional dapat dipenuhi sepenuhnya dari dalam negeri. Upaya ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan yang lebih baik bagi petani tebu di berbagai daerah.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#mentan amran #swasembada gula #produksi gula #Pertanian #kementerian pertanian (kementan) #tebu