Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Presiden Prabowo Targetkan Indonesia Swasembada Pangan Nasional Dalam Tiga Tahun

Prisilia Rumengan • Selasa, 10 Februari 2026 | 20:28 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia mampu mencapai swasembada pangan secara menyeluruh dalam waktu tiga tahun ke depan.

Optimisme tersebut ia sampaikan saat menghadiri Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama di Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026).

Dalam kesempatan itu, Presiden menekankan bahwa kedaulatan pangan merupakan fondasi utama kemandirian bangsa.

Pemerintah tidak hanya fokus menaikkan produksi, tetapi juga memperbaiki seluruh ekosistem pertanian agar lebih adil dan berpihak kepada petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan nasional.

Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah pembenahan tata kelola pupuk. Pemerintah mengambil alih kendali distribusi untuk memastikan pupuk tersedia merata, mudah diakses, dan harganya terjangkau. Menurut Presiden, kebijakan ini sudah mulai menunjukkan hasil nyata di lapangan.

“Begitu kita ambil alih, pupuk sampai ke semua petani dengan adil, cukup, dan harga kita turunkan,” ujar Prabowo di hadapan ribuan jamaah.

Dampaknya terlihat pada peningkatan produksi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka ini sejalan dengan proyeksi FAO dan USDA, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan ASEAN.

Kenaikan produksi tersebut turut memperkuat cadangan nasional. Sepanjang 2025, stok beras Bulog mencapai 3,25 juta ton dan sempat menembus 4,2 juta ton pada Juni, tertinggi sepanjang sejarah.

Memasuki awal 2026, total stok beras pemerintah dan masyarakat tercatat 12,53 juta ton atau naik hampir 50 persen.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah republik, cadangan beras kita tertinggi,” ungkap Presiden.

Tak hanya beras, kinerja komoditas jagung juga menunjukkan tren positif. BPS mencatat produksi jagung pipilan kering mencapai 16,16 juta ton pada 2025, naik 6,74 persen. Sementara proyeksi awal 2026 diperkirakan terus meningkat.

Presiden menegaskan, swasembada beras yang telah dicapai menjadi pijakan menuju kemandirian komoditas lain. Target berikutnya adalah jagung, lalu swasembada pangan total dalam tiga tahun.

Selain produksi, pemerintah juga fokus pada stabilitas harga. Menurut Prabowo, tujuan akhir pembangunan pangan adalah memastikan masyarakat bisa membeli bahan makanan dengan harga terjangkau.

“Kita bertekad menurunkan harga pangan untuk seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Sejalan dengan arahan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kementeriannya terus memperkuat kebijakan pro-petani, mulai dari produksi, distribusi hingga pendampingan di lapangan. Ia menilai keberhasilan saat ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh pihak.

“Kami memastikan swasembada pangan terjaga berkelanjutan dan manfaatnya langsung dirasakan rakyat,” kata Amran.

Dengan produksi yang meningkat, cadangan melimpah, serta kebijakan pupuk dan harga yang lebih terkendali, pemerintah optimistis fondasi ketahanan pangan Indonesia semakin kokoh menuju kemandirian penuh.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#mentan amran #Presiden Prabowo #swasembada pangan #Kementan #target #swasembada