Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kementerian Pertanian Optimistis Petani Mampu Penuhi Kebutuhan Bawang Putih Tanpa Impor

Prisilia Rumengan • Selasa, 10 Februari 2026 | 20:44 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan optimisme pemerintah dalam mewujudkan swasembada bawang putih nasional dengan menjadikan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu sentra utama pengembangan.

Di hadapan petani, penyuluh pertanian lapangan, serta jajaran pemerintah daerah di kawasan Sembalun, Lombok Timur, Mentan Amran menyampaikan secara langsung rencana besar penghentian impor bawang putih dalam kurun waktu empat hingga lima tahun ke depan.

Dalam dialog bersama petani, Amran menekankan bahwa kunci keberhasilan swasembada terletak pada keberanian memperluas luas tanam dan konsistensi pendampingan di lapangan.

Ia menyebut NTB minimal harus menanam 25 ribu hektare bawang putih, bahkan jika memungkinkan ditingkatkan hingga 50 ribu hektare agar mampu menyuplai kebutuhan antarprovinsi.

“Kalau NTB serius, produksi kita cukup untuk menggantikan impor. Targetnya jelas, empat tahun kita hentikan, paling lambat lima tahun,” ujarnya.

Menurut Amran, percepatan program ini merupakan tindak lanjut langsung arahan Presiden RI. Ia mengaku tidak ingin proses tersendat oleh birokrasi.

Setelah menerima instruksi, tim kementerian langsung bergerak ke NTB untuk menyiapkan program khusus bersama pemerintah daerah.

Dari hasil kunjungan lapangan, produktivitas bawang putih NTB dinilai sangat menjanjikan. Beberapa petani bahkan mampu menghasilkan hingga 20–28 ton per hektare.

Angka tersebut jauh di atas rata-rata nasional dan menjadi bukti bahwa NTB layak menjadi pusat pengembangan.

“Kalau kebutuhan nasional hanya sekitar 100 ribu hektare, itu kecil dibanding padi yang 7,4 juta hektare. Dua atau tiga provinsi saja sebenarnya sudah cukup,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi NTB yang dinilai visioner dalam membangun sektor pertanian terintegrasi.

Selain bawang putih, daerah ini mulai mengembangkan hilirisasi dengan fasilitas pabrik pakan, cold storage, hingga dukungan untuk peternak. Menurutnya, integrasi ini memberi kepastian harga sekaligus memperkuat ekonomi petani.

Tak hanya soal luas lahan, Amran juga menyoroti kualitas benih bawang putih Lombok yang dianggap sangat kompetitif dibanding produk impor.

Faktor agroklimat di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut membuat kualitas umbi lebih baik. Karena itu, pemerintah pusat berencana memusatkan pembibitan nasional di wilayah ini.

Data Dinas Pertanian mencatat potensi lahan bawang putih NTB mencapai 7.750 hektare yang tersebar di Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Tengah, Bima, dan Sumbawa.

Potensi tersebut akan diperkuat dengan intervensi benih unggul, pendampingan teknis, serta kebijakan percepatan tanam periode 2026–2030.

Di hadapan petani, Amran menutup kunjungan dengan pesan motivasi. Ia menegaskan bahwa swasembada bukan sekadar program di atas kertas, tetapi membutuhkan perubahan pola pikir dan kerja nyata.

“Kita harus berani bertindak. Dengan semangat petani NTB dan dukungan pemerintah, saya yakin bawang putih Indonesia berdiri di kaki sendiri,” tegasnya.

Optimisme ini menjadi harapan baru bagi sektor pertanian NTB sekaligus langkah strategis mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#mentan amran #kementerian pertanian #swasembada bawang putih #Kementan #bawang putih