RADARPAPUA - Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi aman dan terkendali menjelang bulan suci Ramadan hingga Idulfitri 2026.
Kepastian ini disampaikan langsung Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu.
Dalam keterangannya kepada awak media, Amran menegaskan bahwa laporan yang disampaikan kepada Presiden mencakup kondisi stok, produksi, hingga pergerakan harga sejumlah bahan pokok strategis. Hasil evaluasi menunjukkan pasokan pangan untuk dua bulan ke depan lebih dari cukup.
“Stok pangan kita aman. Sampai Idulfitri, 11 sampai 12 bahan pokok tersedia dan dalam kondisi terkendali,” ujar Amran.
Ia menjelaskan, sebagian besar dari sembilan bahan pokok utama telah mencapai swasembada. Bahkan, beberapa komoditas sudah mampu menembus pasar ekspor. Salah satunya bawang merah yang produksinya surplus.
“Bawang merah sudah swasembada dan kita ekspor. Tahun lalu ekspor sekitar seribu ton. Sekarang fokus kita memperbaiki rantai pasok agar harga tetap stabil di tingkat konsumen,” katanya.
Komoditas lain seperti beras, minyak goreng, daging, ayam, dan telur juga terus diawasi melalui kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) serta Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Menurut Amran, kebijakan tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara keuntungan petani dan daya beli masyarakat.
“Beras paling strategis. Prinsipnya sederhana, petani untung dan konsumen tersenyum,” tegasnya.
Dalam laporannya, Amran menyebut cadangan beras pemerintah terus menguat. Saat ini stok mencapai 3,4 juta ton dan diperkirakan meningkat menjadi 3,8 juta ton pada akhir Februari. Bahkan, pada Maret 2026 ditargetkan menembus 4 juta ton.
Cadangan tersebut akan dimanfaatkan untuk intervensi pasar serta penyaluran bantuan pangan bila diperlukan.
“Kalau pemerintah punya stok kuat, kita bisa cepat menstabilkan harga. Negara harus hadir menjaga pasar,” ujarnya.
Kenaikan stok tersebut didukung lonjakan produksi beras nasional. Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.
Angka ini juga selaras dengan proyeksi lembaga internasional yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar di kawasan ASEAN.
Momentum positif diperkirakan berlanjut pada awal 2026. Potensi produksi Januari hingga Maret diproyeksikan mencapai 10,16 juta ton atau naik hampir 16 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Amran menilai pengalaman stabilitas harga saat Natal dan Tahun Baru menjadi bukti efektivitas strategi penguatan stok.
Pemerintah optimistis pola serupa dapat menjaga ketenangan pasar selama Ramadan hingga Lebaran.
“Alhamdulillah Nataru stabil. Kita ingin Ramadan dan Idulfitri lebih baik lagi, harga terkendali dan masyarakat tenang,” pungkasnya.
Dengan cadangan yang kuat dan produksi meningkat, pemerintah berharap ketahanan pangan nasional tetap terjaga, sekaligus memberi rasa aman bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok di momen hari besar keagamaan.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan