Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kementerian Pertanian Targetkan Produksi Jagung 18 Juta Ton pada 2026 untuk Perkuat Industri dan Lindungi Harga Petani

Prisilia Rumengan • Senin, 16 Februari 2026 | 21:22 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Kementerian Pertanian terus mempercepat pengembangan jagung pangan sebagai langkah strategis memperkuat industri pangan nasional sekaligus menjaga ketahanan pasokan dalam negeri.

Kebijakan ini menjadi bagian dari target swasembada jagung 2026 dengan proyeksi produksi mencapai 18 juta ton pipilan kering.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian untuk memperluas pemanfaatan jagung.

Selama ini, sebagian besar produksi nasional digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Kini, pemerintah mendorong agar jagung juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan domestik, sehingga nilai tambah komoditas meningkat dan ketergantungan pada pasokan luar negeri dapat ditekan.

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik, potensi produksi jagung periode Januari–Maret 2026 mencapai 4,94 juta ton, atau naik 4,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, surplus dan stok carry over sekitar 4,5 juta ton dalam neraca pangan nasional memperkuat keyakinan pemerintah bahwa kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi tanpa impor.

Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Tiurmauli Silalahi, menjelaskan bahwa penguatan hilirisasi menjadi kunci agar produksi jagung tidak hanya berhenti di tingkat panen.

Menurutnya, pemerintah aktif melakukan sosialisasi dan membangun kerja sama dengan berbagai provinsi sentra jagung guna memastikan pasokan untuk industri berjalan berkelanjutan.

“Saat ini Direktorat Hilirisasi Hasil Tanaman bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan melakukan sosialisasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai provinsi sentra jagung untuk memastikan pasokan industri berjalan berkelanjutan,” ujarnya pada 12 Februari 2026.

Kebutuhan jagung pangan untuk industri nasional diperkirakan mencapai sekitar 450.000 ton per tahun, terutama untuk industri pengolahan pati dan produk turunan pangan.

Industri yang membutuhkan jagung dengan kandungan pati tinggi menjadi perhatian khusus pemerintah dalam pengembangan varietas.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menegaskan bahwa pengembangan jagung pangan sangat memungkinkan didukung kemajuan teknologi budidaya dan pengolahan.

Ia menyebut, kemitraan antara petani dan industri akan memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan kualitas produksi.

“Melalui penguatan kemitraan dan hilirisasi, jagung tidak hanya menjadi komoditas pakan, tetapi juga sumber bahan baku industri pangan bernilai tambah tinggi bagi ekonomi nasional,” ujarnya.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi dan melindungi petani, pemerintah menetapkan harga pembelian di tingkat petani sebesar Rp5.500 per kilogram.

Kebijakan ini diharapkan menjaga stabilitas harga sekaligus memberikan kepastian usaha bagi petani jagung di berbagai sentra produksi.

Dengan strategi hilirisasi, kemitraan industri, dan jaminan harga, pemerintah optimistis jagung akan menjadi komoditas strategis yang menopang industri pangan nasional, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#produksi jagung #mentan amran #Andi Amran Sulaiman #Kementan #petani jagung