RADARPAPUA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kepemimpinan yang berani mengubah sistem menjadi fondasi utama menjaga kedaulatan pangan sekaligus mendorong lompatan ekonomi nasional. Hal itu disampaikannya saat memberikan arahan dalam Leadership Camp ASN Sulawesi Selatan di Asrama Haji Sulawesi Selatan, Kamis (26/2/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sulawesi Selatan.
Dalam arahannya, Amran menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan struktural. Menurutnya, pemimpin adalah sosok yang memikul amanah dengan integritas serta keberanian mengambil keputusan besar.
“Memimpin itu indah dalam mimpi, tetapi tidak mudah dalam kenyataan. Pemimpin yang adil dimuliakan, yang tidak adil kehilangan kehormatan,” ujarnya di hadapan para aparatur sipil negara.
Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade sebagai birokrat, tiga periode di kabinet, dua puluh tahun sebagai pengusaha, serta lebih dari satu dekade sebagai dosen dan penyuluh pertanian lapangan, Amran mengaku tekanan dan ujian justru membentuk karakter kepemimpinan yang tangguh.
Ia menegaskan, sektor pertanian membutuhkan keberanian membongkar sistem lama yang berbelit dan tidak efisien. Reformasi regulasi, subsidi, hingga tata niaga dinilai menjadi langkah konkret agar kebijakan benar-benar berdampak langsung kepada petani.
Salah satu terobosan yang dipaparkan adalah reformasi tata kelola pupuk bersubsidi. Kementerian Pertanian melakukan deregulasi terhadap 145 aturan dan memangkas rantai distribusi yang sebelumnya panjang. Kini distribusi hanya melibatkan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia, serta Gapoktan atau pengecer sebagai ujung tombak ke petani.
Hasilnya, biaya pupuk bersubsidi turun hingga 20 persen dan volume pupuk meningkat 700 ribu ton tanpa tambahan anggaran. Kebijakan ini memperkuat kepastian pasokan serta efisiensi di tingkat petani. Pemerintah juga merencanakan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru guna menjaga ketahanan pasokan nasional dalam jangka panjang.
Selain reformasi pupuk, Amran menekankan pentingnya hilirisasi komoditas pertanian sebagai strategi menjaga nilai tambah bangsa. Ia menyoroti peluang besar komoditas kelapa seiring pergeseran konsumsi global, termasuk di China, dari susu hewani ke susu nabati berbasis kelapa.
Menurutnya, potensi ekonomi dari hilirisasi kelapa bisa mencapai Rp5.000 triliun. Komoditas gambir juga dinilai memiliki peluang serupa, mengingat 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia meski pengolahannya masih dilakukan di luar negeri. Sementara pada komoditas CPO, Indonesia menguasai sekitar 60–70 persen pasar dunia dan berpotensi melonjakkan nilai tambah melalui penguatan biofuel serta pengurangan impor solar.
“Baru tiga komoditas saja yang dihilirisasi bisa menghasilkan Rp15 ribu triliun,” tegasnya.
Bagi Amran, transformasi sektor pertanian bukan semata soal angka pertumbuhan, tetapi tentang survival dan martabat bangsa di tengah persaingan global. Ia mengajak ASN untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga bertindak nyata demi kemajuan Indonesia.
Melalui kepemimpinan yang berintegritas, keberanian mengubah sistem, reformasi pupuk bersubsidi, serta hilirisasi komoditas seperti kelapa, gambir, dan CPO, Amran optimistis Indonesia mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus menjadi kekuatan ekonomi dunia.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan