Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kabar Baik untuk Peternak Indonesia Harga Pakan Ayam Pedaging dan Petelur Mulai Turun di Awal 2026

Prisilia Rumengan • Minggu, 8 Maret 2026 | 19:26 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Kementerian Pertanian mencatat adanya tren penurunan harga sejumlah jenis pakan ternak di tingkat produsen sepanjang Februari hingga awal Maret 2026.

Kondisi ini dinilai menjadi kabar baik bagi pelaku usaha peternakan, terutama peternak unggas, karena pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha mereka.

Data tersebut diperoleh dari pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) milik Direktorat Pakan Kementerian Pertanian yang secara rutin memonitor pergerakan harga di industri pakan nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menjelaskan bahwa tren penurunan harga pakan terjadi pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun ayam petelur.

Menurut Agung, pakan menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi dalam usaha peternakan unggas. Karena itu, setiap penurunan harga pakan akan memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi peternak.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga produk seperti ayam dan telur di tingkat konsumen,” ujar Agung saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.

Berdasarkan data SPORA, harga pakan ayam pedaging fase starter (BR1) tercatat turun rata-rata Rp112 per kilogram dari 33 pabrik pakan dengan harga produsen sekitar Rp8.010 per kilogram.

Sementara itu, pakan broiler fase pre starter (BR0) mengalami penurunan rata-rata Rp82 per kilogram dari 30 pabrik pakan dengan harga rata-rata sekitar Rp8.451 per kilogram.

Penurunan juga terjadi pada pakan broiler fase finisher (BR2) yang turun sekitar Rp89 per kilogram dari 31 pabrik pakan dengan rata-rata harga produsen sekitar Rp7.967 per kilogram.

Tidak hanya pada ayam pedaging, harga pakan untuk ayam petelur juga mengalami penurunan. Pakan layer masa produksi (P3) tercatat turun rata-rata Rp86 per kilogram dari 32 pabrik pakan dengan harga produsen sekitar Rp6.803 per kilogram.

Selain itu, konsentrat layer masa produksi (KP3) juga mengalami penurunan rata-rata Rp74 per kilogram dari 14 pabrik pakan dengan harga produsen sekitar Rp7.735 per kilogram.

Meski demikian, Agung menyebutkan bahwa penurunan harga pakan tersebut baru dilakukan oleh sebagian pabrik pakan. Dari sekitar 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 33 pabrik atau sekitar 38 persen yang melakukan penyesuaian harga.

“Kami terus memantau perkembangan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penyesuaian harga ini merupakan langkah positif yang diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak,” jelasnya.

Kementerian Pertanian juga mendorong pabrik pakan lainnya untuk mengikuti langkah serupa agar manfaat penurunan harga dapat dirasakan oleh lebih banyak peternak di berbagai daerah.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, menyampaikan bahwa industri pakan saat ini terus berupaya meningkatkan efisiensi agar harga pakan menjadi lebih kompetitif.

“Industri pakan terus melakukan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien,” ujar Desianto.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pemerintah juga terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. Upaya ini bertujuan menjaga ketersediaan bahan baku pakan sekaligus menekan biaya produksi peternakan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat sektor peternakan, meningkatkan efisiensi biaya produksi, serta menjaga stabilitas harga produk unggas bagi masyarakat.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#kementerian pertanian #Ayam Pedaging #unggas #Ayam petelur #peternakan #Pakan