Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kementerian Pertanian Percepat Hilirisasi Nasional Dorong Nilai Tambah Komoditas dan Lapangan Kerja Petani Indonesia

Prisilia Rumengan • Senin, 23 Maret 2026 | 11:30 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat langkah hilirisasi sektor pertanian sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Upaya ini diyakini menjadi solusi strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di berbagai daerah.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa hilirisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera diwujudkan. Dalam keterangannya, ia menekankan pentingnya mengubah pola lama yang masih bergantung pada ekspor bahan mentah.

“Hilirisasi adalah keniscayaan. Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia, terutama petani,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini keuntungan terbesar justru dinikmati oleh negara lain yang mengolah bahan baku dari Indonesia. Karena itu, Kementan berupaya membangun sistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga bagian dari rantai industri.

“Kita ingin petani tidak hanya menjual hasil panen, tetapi ikut terlibat dalam industri pengolahan. Dengan begitu, nilai tambah meningkat dan kesejahteraan petani ikut terdongkrak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Amran menjelaskan konsep “pohon industri” sebagai pendekatan pengembangan komoditas. Setiap komoditas memiliki berbagai turunan produk bernilai tinggi. Kelapa, misalnya, bisa diolah menjadi berbagai produk turunan, begitu juga kakao dan singkong yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan hingga energi seperti bioetanol.

Sebagai langkah konkret, Kementan mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk mendukung program hilirisasi perkebunan. Program ini menargetkan pengembangan 870 ribu hektare kebun rakyat dalam periode 2025 hingga 2027.

Fokus pengembangan diarahkan pada tujuh komoditas strategis seperti kelapa, kakao, kopi, jambu mete, lada, dan pala. Melalui replanting dan penanaman baru, pemerintah berupaya memperkuat pasokan bahan baku sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri.

Amran menambahkan, hilirisasi juga akan menjadi penggerak utama ekonomi desa. Dengan hadirnya industri pengolahan di sentra produksi, lapangan kerja baru akan terbuka, termasuk bagi generasi muda.

“Kalau industri dibangun di desa, anak muda tidak hanya bertani, tetapi juga bisa bekerja di sektor pengolahan, pemasaran, hingga ekspor. Ini masa depan pertanian Indonesia,” katanya.

Ia juga menyoroti besarnya potensi komoditas unggulan Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai penghasil bahan baku berkualitas, namun produk jadi justru didominasi negara lain.

“Hilirisasi akan mengubah posisi kita, dari pemasok bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tinggi,” tegasnya.

Kementan memastikan akan terus mengawal percepatan program ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan pangan dan ekonomi nasional. Hilirisasi tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi masa depan bangsa.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#hilirisasi nasional #kementerian pertanian #Andi Amran Sulaiman #mentan