Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Teknologi AWD Jadi Andalan Kementerian Pertanian Jaga Produksi Padi Saat Krisis Air Melanda

Prisilia Rumengan • Senin, 30 Maret 2026 | 17:15 WIB

(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

RADARPAPUA - Upaya menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman musim kemarau yang semakin tidak menentu terus diperkuat oleh Kementerian Pertanian. Salah satu langkah strategis yang kini didorong adalah penerapan teknologi pengelolaan air sawah Alternate Wetting and Drying (AWD), yang terbukti mampu menghemat penggunaan air irigasi tanpa menurunkan produktivitas padi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam keberhasilan sektor pertanian, khususnya dalam menghadapi risiko kekeringan. Menurutnya, ketersediaan air yang direncanakan secara efisien akan sangat menentukan keberlangsungan produksi pangan.

“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Dengan sistem yang terencana dan efisien, risiko kekeringan dapat ditekan dan produktivitas tetap terjaga,” ujar Amran.

Sejalan dengan itu, Kepala Balai Riset dan Pengembangan Lingkungan Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa teknologi AWD merupakan solusi adaptif yang dirancang untuk menjawab tantangan keterbatasan air di lapangan, terutama saat musim kemarau.

“AWD memungkinkan petani mengatur air secara lebih terukur. Tanaman tetap tumbuh optimal tanpa harus terus-menerus digenangi air, sehingga lebih siap menghadapi kondisi kekeringan,” ungkap Fadjry.

Ia menambahkan, teknologi ini pertama kali dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009 dan mulai diadopsi di Indonesia sejak 2013. Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, AWD mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 17–20 persen.

Tak hanya efisien, metode ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Penggunaan air yang lebih terkontrol membantu memperbaiki struktur tanah sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.

Sementara itu, analis BRMP Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, menjelaskan bahwa penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah. Sawah tidak dibiarkan tergenang terus-menerus, melainkan melalui fase pengeringan sebelum diairi kembali.

“Petani cukup menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon yang dibenamkan ke tanah untuk memantau kondisi air. Dari situ bisa diketahui kapan waktu yang tepat untuk mengairi kembali,” jelas Ali.

Ia menyebutkan, pengairan biasanya dilakukan saat muka air di dalam pipa turun hingga 10–15 cm di bawah permukaan tanah. Air kemudian ditambahkan secara terbatas hingga mencapai ketinggian 3–5 cm guna menjaga kelembapan tanah.

Siklus ini dilakukan secara berulang dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan fase pertumbuhan tanaman, terutama pada tahap kritis seperti pemupukan hingga masa berbunga.

Menurut Ali, selain menghemat air, metode AWD juga mampu memperkuat sistem perakaran tanaman serta meningkatkan ketahanan terhadap cekaman kekeringan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, efisiensi ini membuka peluang perluasan area irigasi ke lahan lainnya.

“AWD bukan sekadar teknik pengairan, tetapi bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim yang memperkuat ketahanan produksi padi,” tegasnya.

Penerapan teknologi ini menjadi bagian dari pendekatan climate smart agriculture yang kini terus dikembangkan Kementerian Pertanian. Dengan mengedepankan efisiensi dan keberlanjutan, AWD diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi padi meski di tengah keterbatasan sumber daya air.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#kementerian pertanian #Teknologi #Pertanian #awd