RADARPAPUA - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat langkah hilirisasi sektor pertanian dengan fokus pada pengembangan biofuel dan bioetanol sebagai strategi utama menuju kemandirian energi nasional. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam merespons dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah kini bergerak cepat untuk mengoptimalkan sumber daya dalam negeri, khususnya dari sektor pertanian, guna mendukung transisi energi. Hal tersebut disampaikannya usai rapat bersama BUMN pangan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta.
Menurut Amran, arah kebijakan pemerintah saat ini tidak lagi hanya fokus pada ketahanan pangan, tetapi mulai bergeser pada kemandirian energi berbasis pertanian. Ia menyebutkan bahwa stabilitas pangan nasional sudah cukup kuat, terbukti dari harga beras yang tidak menjadi penyumbang inflasi selama Ramadan.
“Sekarang kita masuk ke tahap berikutnya, yaitu kemandirian energi. Presiden sudah menegaskan penghentian impor solar dan menggantinya dengan biofuel berbasis sawit B50 dengan kapasitas mencapai 5,3 juta ton,” ujar Amran dalam keterangannya.
Selain biofuel, Kementan juga mendorong pengembangan bioetanol melalui program E20, yaitu campuran etanol dan bensin. Sumber bahan bakunya berasal dari komoditas pertanian seperti jagung, ubi kayu, dan tebu yang dinilai melimpah di Indonesia.
Amran menjelaskan bahwa potensi bioetanol nasional sangat besar, termasuk dari produk samping industri gula seperti molase atau tetes tebu yang selama ini justru diekspor hingga mencapai 1 juta ton per tahun. Ia menilai bahan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung produksi energi dalam negeri.
Dalam wawancara tersebut, Amran menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar target kemandirian pangan dan energi dapat tercapai secara bersamaan. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama dalam mempercepat implementasi program hilirisasi.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyebut sektor pertanian kini memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi nasional. Ia menilai keberhasilan swasembada pangan menjadi landasan kuat untuk melangkah ke sektor energi berbasis bioenergi.
“Saat ini pertanian tidak hanya bicara pangan, tapi juga energi. Kita sudah punya dasar kuat dan sekarang saatnya berkontribusi lebih luas melalui bioenergi,” kata Sudaryono.
Untuk mempercepat realisasi program, Kementan juga memperkuat sinergi dengan BUMN pangan. Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata, mengungkapkan pihaknya siap mendukung langkah tersebut melalui optimalisasi potensi yang dimiliki perusahaan negara.
Ia menjelaskan bahwa koordinasi antara BUMN dan Kementan akan difokuskan pada pembukaan peluang baru dalam pengembangan bioenergi, sehingga Indonesia dapat semakin mandiri dan tidak bergantung pada impor energi.
Melalui percepatan hilirisasi ini, pemerintah tidak hanya menargetkan kemandirian energi, tetapi juga peningkatan nilai tambah komoditas pertanian serta kesejahteraan petani. Program ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat ekonomi nasional.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan