Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Percepat Mitigasi El Nino di Indonesia untuk Jaga Produksi Pangan April hingga Juni 2026

Prisilia Rumengan • Dipublikasikan Minggu, 5 April 2026 | 17:51 WIB
(credit: pertanian.go.id)
(credit: pertanian.go.id)

 

RADARPAPUA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mempercepat langkah mitigasi dalam menghadapi potensi El Nino yang diperkirakan berdampak pada sektor pertanian nasional. Fokus utama diarahkan pada periode krusial April hingga Juni 2026 yang dinilai menjadi penentu stabilitas produksi pangan di tengah ancaman kekeringan.

Dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Kemarau 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Amran menegaskan bahwa peringatan dari BMKG terkait potensi El Nino harus direspons dengan langkah cepat dan strategis.

“Sesuai dengan peringatan dari BMKG bahwasanya ada El Nino, ini cukup mengkhawatirkan. Ini perlu kita melakukan langkah-langkah strategis dan percepatan,” ujar Amran.

Meski dihadapkan pada potensi ancaman tersebut, pemerintah memastikan stok pangan nasional dalam kondisi aman. Amran menyebutkan cadangan beras pemerintah saat ini telah mencapai 4,4 juta ton dan diproyeksikan meningkat hingga 5 juta ton dalam waktu dekat.

“Sekarang ini capaian kita, stok kita hari ini 4,4 juta ton, insya Allah bulan ini bisa mencapai 5 juta ton. Ini berkat kerja keras kita semua,” ungkapnya.

Untuk menjaga kestabilan tersebut, Kementerian Pertanian mengimplementasikan lima strategi utama. Pertama, melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta memperkuat sistem peringatan dini agar respons di lapangan lebih cepat dan tepat sasaran.

Kedua, optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, serta penguatan sistem pompanisasi dan perpipaan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga suplai air di tengah musim kering.

Ketiga, percepatan masa tanam di daerah yang masih memiliki ketersediaan air, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Selain itu, petani juga didorong menggunakan varietas unggul yang tahan kekeringan dan memiliki masa panen lebih cepat.

Keempat, optimalisasi pemanfaatan lahan seperti lahan rawa dan cetak sawah agar dapat segera ditanami tanpa jeda. Upaya ini bertujuan untuk mengejar target produksi nasional.

Kelima, memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, penyuluh, serta seluruh pemangku kepentingan guna memastikan percepatan berjalan efektif di lapangan.

Amran menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut telah mulai diimplementasikan secara nyata, termasuk percepatan tanam dan penguatan sistem irigasi di berbagai daerah. Ia juga meminta pemerintah daerah segera mengusulkan kebutuhan, terutama terkait irigasi perpompaan, agar penyesuaian anggaran dapat dilakukan dengan cepat.

“Bahkan daerah seluruh Indonesia yang masih butuh irpom segera usulkan sekarang via online. Kepala Dinas usulkan cepat agar kita bisa geser anggaran,” tegasnya.

Menurutnya, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kecepatan aksi di lapangan. Ia menyebut periode April hingga Juni sebagai titik kritis yang akan menentukan keberlanjutan swasembada pangan nasional.

“Yang menentukan April-Juni. Kalau target lolos, insya Allah swasembada pangan ini berkelanjutan,” ujarnya.

Amran optimistis, dengan kolaborasi solid antara pemerintah pusat dan daerah, dukungan TNI, serta kerja keras petani, ketahanan pangan nasional dapat terus terjaga. Bahkan di tengah tantangan global, sektor pertanian dinilai mampu menjadi penopang stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Menutup arahannya, Amran kembali menekankan pentingnya aksi nyata di lapangan sebagai faktor penentu keberhasilan.

“Tolong gerakkan di lapangan. Yang menentukan Anda,” pungkasnya.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
Sumber : pertanian.go.id
kementerian pertanian Andi Amran Sulaiman pangan el nino kemarau