Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Konflik Antarsuku di Wamena Paksa 609 Warga Mengungsi

Tina Mamangkey • Sabtu, 16 Mei 2026 | 21:08 WIB
Aparat Polres Jayawijaya dan Brimob Kompi IV Batalyon B Wamena berjaga-jaga dalam menangani perang antarsuku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. ANTARA/HO-Humas Polres Jayawijaya.
Aparat Polres Jayawijaya dan Brimob Kompi IV Batalyon B Wamena berjaga-jaga dalam menangani perang antarsuku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. ANTARA/HO-Humas Polres Jayawijaya.

 

RADARPAPUA - Konflik antarsuku kembali terjadi di Wamena, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan.

Aparat gabungan dari Polres Jayawijaya bersama Brimob Kompi IV Batalyon B Wamena kini terus melakukan penanganan intensif untuk meredam bentrokan yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat di daerah tersebut.

Kapolres Jayawijaya, Anak Agung Made Satriya Bimantara, mengatakan pihaknya terus berupaya mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak akibat perang antarsuku yang terjadi.

“ Kami jajaran Polres Jayawijaya yang dibantu oleh Brimob Kompi IV Batalyon B Wamena terus bekerja semaksimal mungkin untuk melerai perang antarsuku ini supaya mencegah terjadinya korban jiwa lagi,” katanya.

Menurut dia, perang suku yang terjadi antara suku Hubla dari Kurima dan suku Lanny dari Tiom bermula dari aksi pemalangan jalan yang dilakukan kelompok masyarakat Lanny Jaya pada 12 Juni 2024.

Aksi tersebut dipicu kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada 17 Mei 2024 di Kampung Megapura, Distrik Asolokobal.

Insiden kecelakaan itu kemudian berkembang menjadi aksi saling serang antara kelompok masyarakat Lanny Jaya dengan kelompok masyarakat gabungan dari Kurima, Asotipo, dan Asolokobal. Bentrokan tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

Masalah itu sebenarnya sempat diselesaikan melalui musyawarah adat dengan kesepakatan pembayaran denda adat.

“Kemudian masalah tersebut diselesaikan secara musyawarah adat dengan kesepakatan denda adat sebesar Rp2 miliar 2 dan 30 ekor babi,” ujarnya.

Namun, pelaksanaan pembayaran denda adat pada 6 Mei 2026 kembali memicu ketegangan.

Pihak masyarakat Lanny Jaya menilai pembayaran yang dilakukan tidak sesuai dengan kesepahaman sebelumnya sehingga menimbulkan ketidakpuasan.

Situasi kemudian semakin memanas setelah terjadi aksi penyerangan yang dilakukan dengan berjalan kaki melalui jembatan gantung Wouma atau Kali Uwe.

Dalam kejadian itu, jembatan gantung dilaporkan putus akibat kelebihan beban.

“Putusnya jembatan gantung tersebut karena kelebihan beban dan mengakibatkan korban jiwa serta memicu kemarahan dari kelompok masyarakat Lanny Jaya yang berujung pada aksi penyerangan lanjutan dengan kelompok massa yang lebih besar dan meluas,” katanya.

Bentrok antarsuku antara Hubla dan Lanny kembali pecah pada 15 Mei 2026 di sejumlah titik di Wamena, termasuk di sekitar Jalan Diponegoro dan Pasar Wouma.

Konflik tersebut menyebabkan adanya korban jiwa dan korban luka berat.

Selain korban manusia, perang suku juga mengakibatkan pembakaran rumah warga dan honai di sekitar wilayah Kali Uwe Wouma.

“Terjadi juga pembakaran beberapa rumah dan honai yang merupakan wilayah pemukiman masyarakat setempat, berada di sekitar area perang suku Kali Uwe Wouma. Perkembangan situasi dan kondisi sehingga kerugian materiil belum dapat dilakukan pendataan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, perang suku juga terjadi antara suku Dani dari Wamena dan suku Lanny dari Tiom di Kampung Muai, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya.

“Dampak dari perang suku tersebut mengakibatkan adanya korban dengan luka ringan,” katanya.

Kapolres Jayawijaya menjelaskan total korban akibat perang antarsuku di beberapa lokasi mencapai 21 orang.

Dari jumlah tersebut, dua orang meninggal dunia, empat orang mengalami luka berat, dan 15 lainnya mengalami luka ringan.

Selain menimbulkan korban, konflik yang terjadi juga memaksa ratusan warga mengungsi demi keselamatan. 

Sebanyak 609 warga dilaporkan mengungsi ke Mapolres Jayawijaya akibat perang antarsuku yang terjadi di wilayah Wouma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Hingga kini aparat gabungan masih terus berjaga dan melakukan pengamanan di sejumlah titik rawan guna mencegah konflik kembali meluas. (antara)

Editor : Tina Mamangkey
#konflik antarsuku #aparat gabungan #pengungsi #Papua Pegunungan #wamena