Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Tren Turun, Harga Minyak Mei 2024 Tercatat US$79,78 Per Barel

Fandy Gerungan • Rabu, 5 Juni 2024 | 14:58 WIB

Pengeboran Minyak Lepas Pantai
Pengeboran Minyak Lepas Pantai

RADARPAPUA.ID- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga rata-rata minyak mentah (Indonesian Crude Price/ICP) untuk bulan Mei sebesar US$79,78 per barel, turun dari ICP bulan April sebesar US$87,61 per barel. Penetapan ini diatur melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 261.K/MG.03/DJM/2024 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Mei 2024 yang dikeluarkan pada 3 Juni 2024.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional dipengaruhi oleh berkurangnya premium risk terkait faktor geopolitik, dengan memudarnya kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di Timur Tengah dan tetap stabilnya pasokan minyak mentah global.

Baca Juga: Asal Usul 109 Ton Emas Cap Palsu Antam Diselidiki Kejagung

Selain itu, faktor lain termasuk tingginya suku bunga dan inflasi yang menekan permintaan konsumen dan industri, terutama di Eropa, sementara pasokan meningkat dari produsen non-OPEC seperti Amerika Serikat. “Di samping itu, OPEC merevisi turun proyeksi peningkatan minyak dunia kuartal 2 (dua) 2024 pada publikasi Mei 2024 dibandingkan bulan sebelumnya untuk kuartal 2 (dua) tahun 2024 sebesar 0,08 juta barel per hari, menjadi 103,75 juta barel per hari," kata Agus dalam keterangannya, Rabu (5/6/2024).

Agus menambahkan bahwa penurunan harga minyak mentah Mei 2024 juga dipengaruhi oleh ketidakpastian perekonomian Amerika Serikat, yang disebabkan penundaan penurunan tingkat suku bunga sentral AS untuk meredam inflasi. Kekhawatiran pasar akan terhambatnya pertumbuhan ekonomi AS berpotensi menurunkan permintaan minyak mentah negara tersebut.

"Terdapat pula kekhawatiran pasar akan keseimbangan supply-demand menyusul rencana Departemen Energi AS untuk mengeluarkan 10 juta barel cadangan gasoil di musim panas, yang juga mempengaruhi penurunan harga minyak mentah. Menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lain juga menyebabkan penurunan harga," imbuh Agus.

Baca Juga: Alasan Pribadi Penyebab Kepala Otorita IKN Mundur, Kata Jokowi

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh berkurangnya volume minyak mentah yang diproses oleh sejumlah kilang di Asia. Penurunan ini seiring merosotnya marjin penjualan diesel akibat peningkatan pasokan produk dari kilang-kilang baru dan cuaca yang sejuk di belahan bumi bagian utara.

Selain itu, penurunan throughput minyak mentah Korea Selatan sebesar 3,6% akibat kebakaran di kilang Daesan dan penurunan throughput minyak mentah Singapura sebesar 7,3% karena aktivitas pemeliharaan di kilang-kilang ExxonMobil dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya juga berkontribusi.

Baca Juga: Pasca Mundurnya Kepala Otorita IKN, BPK Temukan Empat Masalah Pembangunan IKN

Di China, konsumsi gasoil turun sebesar 4,41% menjadi 16,51 juta ton pada April 2024 dibandingkan bulan sebelumnya, seiring peningkatan penggunaan kendaraan listrik. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#ESDM #minyak mentah