Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kenaikan Harga Gula Jadi Perhatian Selain Harga Beras

Tina Mamangkey • Rabu, 27 September 2023 | 11:17 WIB
Salah seorang pedagang saat menakar gula di Pasar Beras Bendul Merisi Surabaya. (Foto: Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)
Salah seorang pedagang saat menakar gula di Pasar Beras Bendul Merisi Surabaya. (Foto: Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

RADARPAPUA - Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa impor beras selama periode Januari hingga Agustus 2023 mencapai 1,59 juta ton. Mayoritas impor tersebut terdiri dari beras semi-milled atau wholly milled rice, yang mencakup 88,52 persen dari total impor tersebut.

Menurut Amalia, "Impor beras terbesar berasal dari Thailand, dengan volume mencapai 802 ribu ton atau sekitar 50,36 persen dari total impor beras."

Selain perihal impor beras, Amalia juga menyoroti perluasan kewaspadaan terhadap harga gula pasir. BPS mencatat bahwa harga gula pasir telah mengalami kenaikan yang signifikan selama tiga pekan pertama bulan September 2023.

Meskipun demikian, kapasitas produksi gula di dalam negeri relatif tidak mengalami perubahan yang besar dalam beberapa tahun terakhir. Amalia menjelaskan, "Hal ini mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun."

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyoroti pentingnya diversifikasi pangan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kenaikan harga beras yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Tito menyatakan, "Perlu melakukan gerakan seperti diversifikasi pangan di samping kita juga melihat stok Bulog dan Bapanas. Di lapangan, di daerah, teman-teman bisa mendorong keberagaman pangan pokok sesuai dengan produksi lokal yang selama ini disukai masyarakat lokal."

Tito Karnavian juga menegaskan bahwa pemerintah akan memantau perkembangan harga gula dengan seksama. "Kita akan cek betul penyebabnya apa, apakah produksi dalam negeri atau impor," katanya.

Dalam dua pekan terakhir, harga gula telah mencapai Rp 15 ribu per kilogram di sejumlah wilayah. Hasran, seorang peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), mengungkapkan bahwa harga gula telah melampaui harga acuan penjualan kepada konsumen yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional, yang berkisar antara Rp 14.500 hingga Rp 15.500 per kilogram tergantung wilayahnya. Secara rata-rata, harga gula telah naik sekitar Rp 500 per kilogram di tingkat konsumen.

Hasran menjelaskan bahwa kenaikan harga gula di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kenaikan harga gula di pasar global, peningkatan biaya produksi yang terkait dengan pupuk dan tenaga kerja, serta kekhawatiran terkait dampak El Nino pada panen tebu tahun 2023-2024. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#stok gula #harga gula #el nino #gula pasir #cips #BPS