Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Imbas Krisis Timur Tengah Bikin Emak-emak Resah, Ukuran Tempe Mengecil

Tina Mamangkey • Kamis, 7 Mei 2026 | 06:58 WIB
Harga Kedelai naik akibat konflik Timur Tengah, ukuran tempe kini makin kecil. (Antara)
Harga Kedelai naik akibat konflik Timur Tengah, ukuran tempe kini makin kecil. (Antara)

 

RADARPAPUA - Gejolak yang terjadi di kawasan Timur Tengah kini mulai berdampak pada kebutuhan sehari-hari masyarakat, termasuk harga bahan pangan di Indonesia.

Salah satu yang paling dirasakan adalah kenaikan harga kedelai yang membuat para perajin tempe harus mencari cara agar usaha mereka tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Di Ponorogo, sejumlah produsen tempe mulai mengurangi ukuran produk karena biaya produksi yang terus meningkat. Kenaikan harga kedelai impor dan bahan pendukung seperti plastik kemasan membuat pengeluaran para perajin semakin membengkak.

Salah satu perajin tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo, Hadi Prayitno, mengaku kondisi tersebut memaksanya melakukan penyesuaian agar usaha tetap berjalan.

"Kalau harga dinaikkan pembeli bisa berkurang, jadi kami kurangi ukuran tempe," ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (7/6).

Menurut Hadi, sebelumnya produksi tempe miliknya mampu mencapai sekitar tiga kuintal per hari. Namun setelah harga bahan baku naik, jumlah produksi terpaksa diturunkan menjadi sekitar dua hingga dua setengah kuintal per hari.

Selain mengurangi jumlah produksi, ukuran setiap bungkus tempe juga diperkecil. Jika sebelumnya berat tempe dalam satu bungkus sekitar 380 gram, kini menjadi sekitar 350 gram. Langkah itu diambil agar harga jual tetap sama dan tidak memberatkan pembeli.

"Untuk harga masih sama, hanya beratnya yang sedikit dikurangi," katanya.

Hadi mengatakan dirinya masih mengandalkan kedelai impor sebagai bahan utama produksi. Selain karena pasokan kedelai lokal terbatas, hasil olahan dari kedelai impor juga dinilai lebih banyak dan lebih sesuai untuk produksi tempe dalam jumlah besar.

Sementara itu, pedagang kedelai di Pasar Legi Ponorogo, Rafli, menyebut harga kedelai impor saat ini mengalami kenaikan cukup signifikan.

"Kenaikan terjadi sejak konflik di Timur Tengah, harapannya harga bisa kembali stabil," ujarnya.

Ia menjelaskan harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp12 ribu per kilogram. Tidak hanya kedelai impor, harga kedelai lokal juga ikut mengalami kenaikan dari sekitar Rp9 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.

Kondisi ini membuat para pelaku usaha kecil, terutama perajin tempe dan tahu, semakin tertekan karena harus menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat.

Jika harga jual dinaikkan terlalu tinggi, mereka khawatir pembeli akan berkurang. Namun jika tetap mempertahankan harga lama, keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

Fenomena mengecilnya ukuran tempe pun kini mulai dirasakan masyarakat sebagai salah satu dampak langsung ketidakpastian ekonomi global yang turut memengaruhi harga bahan pangan di dalam negeri. 

Editor : Tina Mamangkey
#kenaikan harga #harga tempe #kenaikan harga kedelai #timur tengah