Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Tembus Pasar Internasional! UMKM Mimika Ekspor Perdana Kepiting Bakau ke Malaysia

Tina Mamangkey • Kamis, 14 Mei 2026 | 20:35 WIB
Bupati Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong didampingi Kepala Bea Cukai Timika Yudi Amrullah dan Kepala Balai Karantina Papua Tengah Anton Panji Mahendra, menunjukkan komoditas kepiting bakau (karaka) yang hendak diekspor ke Malaysia, Rabu (13/5/2026). (ANTARA/Marselinus Nara)
Bupati Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong didampingi Kepala Bea Cukai Timika Yudi Amrullah dan Kepala Balai Karantina Papua Tengah Anton Panji Mahendra, menunjukkan komoditas kepiting bakau (karaka) yang hendak diekspor ke Malaysia, Rabu (13/5/2026). (ANTARA/Marselinus Nara)

 

RADARPAPUA - Potensi hasil laut dari Papua Tengah mulai menunjukkan daya saingnya di pasar global. Hal ini terlihat dari keberhasilan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Mimika yang untuk pertama kalinya berhasil melakukan ekspor kepiting bakau atau karaka ke Malaysia.

Ekspor tersebut dilakukan oleh PT Hoki Laut Perkasa dengan total pengiriman mencapai 240 kilogram kepiting bakau hidup.

Pengiriman dilakukan melalui Bandara Mozes Kilangin dan secara resmi dilepas oleh Bupati Mimika Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong.

Keberhasilan ekspor ini menjadi bukti bahwa produk hasil laut dari Mimika memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional.

Selain itu, langkah tersebut juga membuka peluang baru bagi para pelaku UMKM di Papua Tengah untuk mengembangkan usaha mereka hingga ke luar negeri.

Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan bahwa pemerintah daerah terus berkomitmen mendukung perkembangan UMKM agar mampu naik kelas dan menembus pasar ekspor.

Menurutnya, sektor perikanan di Mimika memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena sumber daya laut di wilayah tersebut sangat melimpah.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam agar tidak habis akibat eksploitasi berlebihan.

“Kepiting bakau yang hari di ekspor ke Malaysia ini hasil tangkapan masyarakat. Kalau sekarang kita bisa ambil lama-lama habis. Tugas kami adalah bagaimana mendorong masyarakat untuk membudidayakan kepiting," kata Johannes pada kegiatan pelepasan ekspor perdana UMKM berorientasi ekspor Mimika 2026 di Bandara Mozes Kilangin Timika.

Pemerintah Kabupaten Mimika juga memberikan perhatian khusus terhadap identitas daerah dalam kegiatan ekspor tersebut.

Johannes meminta agar seluruh dokumen pengiriman komoditas perikanan yang diekspor ke luar negeri tetap mencantumkan Timika sebagai daerah asal produk.

"Kami berharap surat keterangan asal ini harus dari Timika, ini harapan kami. Terima kasih Bea Cukai dan Karantina yang sudah membuka pintu bagi pertumbuhan ekonomi di Mimika. Hari ini merupakan satu langkah nyata dimana kita bersama-sama menuju pasar internasional" ujarnya.

Ia menilai keberhasilan ekspor perdana ini menjadi motivasi besar bagi pelaku UMKM lainnya di Mimika.

Dengan kerja sama dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, instansi terkait, dan pelaku usaha, produk-produk lokal Papua diyakini mampu menjadi kekuatan ekonomi baru yang membanggakan daerah maupun Indonesia.

Sementara itu, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) C Timika, Yudi Amrullah, mengatakan dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam mendorong UMKM Mimika menuju pasar global.

Ia menjelaskan bahwa sektor perikanan laut di Mimika memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional melalui kegiatan ekspor sumber daya alam.

Menurut data yang disampaikan, total devisa ekspor sumber daya alam melalui Timika sepanjang 2025 mencapai Rp1,29 miliar dengan volume ekspor sebesar 21,5 ton.

Sementara hingga Mei 2026, nilai devisa ekspor sudah mencapai Rp1,05 miliar dengan volume ekspor sebesar 19,24 ton.

“Jadi sudah hampir setara dengan capaian tahun lalu. Komoditas utama ekspor di tahun 2026 ini kepiting bakau hidup. Negara tujuan ekspor Malaysia dan Singapura. UMKM berpotensi ekspor di tahun 2026 ini sangat banyak, untuk yang eksportir kepiting bakau ada dua yakni PT Harapan Nurdiana Jaya bersama PT Hoki Laut Perkasa," ujarnya.

Ia menambahkan, UMKM yang melakukan ekspor perdana tersebut merupakan binaan Bea Cukai Timika, Karantina Papua Tengah, serta UPBU Mozes Kilangin Timika yang terus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha lokal.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Papua Tengah, Anton Panji Mahendra, menyebut kegiatan ekspor ini merupakan hasil kolaborasi bersama dalam mendukung produk UMKM Mimika agar diakui di pasar internasional.

Menurutnya, ekspor kepiting bakau bukan hanya sekadar pengiriman komoditas, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi masyarakat Mimika melalui pemanfaatan potensi sumber daya laut secara maksimal.

"Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas dan kontinuitas produk sehingga kepatuhan terahap standar karantina dan regulasi internasional tetap tidak meninggalkan nilai nilai kearifan lokal dengan menjaga kelestarian nya," ujarnya

Ia berharap kegiatan ekspor perdana ini dapat menjadi inspirasi bagi UMKM lainnya di Papua Tengah agar semakin percaya diri untuk memasuki pasar internasional.

Karantina Papua Tengah, Bea Cukai Timika, dan UPBU Mozes Kilangin Timika juga menyatakan siap mendampingi lebih banyak UMKM lokal agar mampu menembus pasar ekspor dunia. (ant)

Editor : Tina Mamangkey
#Pasar Internasional #UMKM Mimika #Kepiting Bakau #karaka #ekspor kepiting bakau