RADARPAPUA - Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kemungkinan terulangnya krisis moneter 1998.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam keadaan aman dan berbeda jauh dibanding situasi saat krisis terjadi puluhan tahun lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya usai menghadiri acara penyerahan sejumlah pesawat di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Air Force Base, Senin.
"Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan 'instability social-politic' terjadi setelah setahun kita resesi," kata Purbaya usai acara penyerahan sejumlah pesawat di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, pada pertengahan tahun 1997 Indonesia sudah mengalami tekanan ekonomi hingga masuk ke fase resesi. Situasi tersebut kemudian diikuti ketidakstabilan sosial dan politik yang akhirnya memperburuk kondisi hingga memicu krisis moneter 1998.
Menurut Purbaya, keadaan saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda serupa. Pertumbuhan ekonomi nasional masih dinilai cukup kuat sehingga pemerintah memiliki ruang untuk menjaga stabilitas dan memperbaiki indikator ekonomi yang terdampak gejolak pasar global.
Selain pelemahan rupiah, pasar saham juga mengalami tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun hingga menyentuh level 6.628 pada awal perdagangan pagi.
Meski demikian, Purbaya menilai kondisi tersebut hanya dipengaruhi sentimen pasar jangka pendek.
Pemerintah, lanjut dia, tetap fokus menjaga kekuatan fundamental ekonomi nasional agar target pertumbuhan ekonomi tidak terganggu oleh dinamika pasar keuangan global.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai melakukan intervensi di pasar obligasi dengan volume yang lebih besar.
Kebijakan itu dilakukan guna menjaga stabilitas pasar surat utang negara sekaligus mencegah aksi jual investor asing yang berpotensi memicu capital loss akibat turunnya harga obligasi.
Purbaya juga meminta pelaku pasar dan investor domestik agar tidak panik menghadapi kondisi pasar saham yang sedang terkoreksi.
"Jadi teman-teman nggak usah khawatir. Investor pasar saham, kalau saya bilang, jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat tekniknya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham," ujarnya.
Berdasarkan data perdagangan pasar uang pada Senin pagi, nilai tukar rupiah melemah sebesar 33 poin atau sekitar 0,19 persen menjadi Rp17.630 per dolar AS.
Posisi tersebut turun dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS. (ant)
Editor : Tina Mamangkey