Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Adu Hemat Motor Listrik vs Motor Bensin, Siapa Lebih Untung Setelah 5 Tahun?

Tina Mamangkey • Rabu, 17 Juni 2026 | 07:53 WIB
Sebelum Beli, Intip Perbandingan Biaya Motor Listrik dan Motor Bensin dalam 5 Tahun. (Ilustrasi AIGPT)
Sebelum Beli, Intip Perbandingan Biaya Motor Listrik dan Motor Bensin dalam 5 Tahun. (Ilustrasi AIGPT)

 

RADARPAPUA - Memilih kendaraan roda dua kini tidak hanya soal harga saat membeli. Banyak calon konsumen mulai memperhitungkan biaya penggunaan dalam jangka panjang, mulai dari konsumsi energi, biaya perawatan, pajak, hingga nilai jual kembali. 

Perbandingan inilah yang menjadi dasar untuk mengetahui apakah motor listrik benar-benar lebih hemat dibandingkan motor bensin setelah digunakan selama lima tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, motor listrik semakin diminati seiring bertambahnya pilihan model, harga yang semakin kompetitif, serta dukungan insentif dari pemerintah.

Meski demikian, harga pembelian bukan satu-satunya faktor yang menentukan biaya kepemilikan secara keseluruhan atau total cost of ownership (TCO).

Motor Listrik dan Motor Bensin dari Sisi Energi

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai motor listrik memiliki keunggulan yang sangat besar dari sisi biaya energi. Menurutnya, biaya operasional motor listrik hanya sekitar Rp42 per kilometer, sedangkan motor bensin mencapai Rp200 hingga Rp246 per kilometer.

“Dengan 15.000 km per tahun, dalam lima tahun energi motor listrik habis sekitar Rp3-4 juta, bensin Rp14-18 juta, penghematan murni Rp11-14 juta. Apalagi jika insentif Rp5 juta yang ditunda Purbaya terealisasikan. Titik impasnya jatuh di tahun ke 2-3, setelah itu motor listrik kita tinggal bonus pakainya saja,” ungkap Yannes kepada JawaPos.com.

Namun, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, menilai perbandingan biaya selama lima tahun tidak bisa disimpulkan secara sederhana. Ia menilai motor bensin juga memiliki efisiensi yang cukup baik.

“Kan sekarang motor yang bensin itu, satu liter kan rata-rata berkisar 45 km sampai 55 km. Nah kalau yang motor listrik itu kan dengan asumsi KWh-nya kurang lebih sama lah ya, itu kan sekitar 30 sampai 35 km lah,” ungkap Sigit kepada JawaPos.com.

Biaya Perawatan Motor Listrik Lebih Rendah

Dari sisi perawatan rutin, motor listrik dinilai lebih hemat karena tidak membutuhkan penggantian oli mesin, filter bahan bakar, maupun van belt seperti pada motor berbahan bakar bensin.

Yannes menyebut biaya servis tahunan motor listrik hanya berkisar Rp150.000 hingga Rp500.000. Sementara motor bensin dapat menghabiskan sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta setiap tahun hanya untuk servis berkala.

“Sehingga biaya servis tahunan hanya Rp150.000–Rp500.000. Motor bensin bisa menghabiskan Rp1–1,5 juta per tahun hanya untuk servis rutin. Aki motor bensin juga lebih sering diganti, sedangkan baterai motor listrik biasanya dilindungi garansi 3–5 tahun atau 50.000–100.000 km, sehingga dalam 5 tahun pertama jarang perlu diganti,” ungkapnya.

Meski demikian, pengamat otomotif Bebin Djuana mengingatkan bahwa motor listrik juga memiliki sejumlah tantangan. Selain ban yang lebih cepat aus karena bobot kendaraan lebih berat, usia pakai baterai juga masih menjadi perhatian.

“Daya tahan baterai juga belum ada panduan umur rata-rata. Padahal baterai jadi momok karena harganya yang mahal. Belum lagi jika diperhatikan kebanyakan jarak tempuh per charging masih dibawah 120km bahkan dibawah 100km. Keterbatasan ini menyebabkan perhari harus beberapa kali melakukan pertukaran baterai ditempat charging,” ungkap Bebin kepada JawaPos.com.

Pajak Lebih Ringan, Nilai Jual Kembali Jadi Tantangan

Perbedaan juga terlihat dari sisi pajak kendaraan. Menurut Sigit Kumala, beban pajak motor listrik jauh lebih rendah dibandingkan motor bensin, meskipun saat ini masih dipengaruhi adanya berbagai bentuk insentif pemerintah.

“Kalau motor bensin kan pajak bisa Rp 2,5 juta, sementara motor listrik itu cuma Rp 100 ribu-150 ribu. Tapi kondisi dengan pajak yang disubsidi pemerintah itu kan (motor listrik), jadi nggak bisa apple to apple tuh,” ungkap dia.

Sementara itu, terkait nilai jual kembali, Sigit menilai motor listrik masih sulit diprediksi. Namun jika mengacu pada pengalaman mobil listrik, penyusutan nilainya diperkirakan lebih besar dalam lima hingga enam tahun mendatang.

Yannes juga berpendapat bahwa motor listrik memang berpotensi mengalami depresiasi lebih tinggi akibat perkembangan teknologi yang cepat serta kekhawatiran konsumen terhadap kondisi baterai.

Di sisi lain, regulasi terbaru melalui Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 membuat motor listrik tidak lagi otomatis bebas PKB dan BBNKB, meski pemerintah daerah masih dapat memberikan insentif sesuai kebijakan masing-masing.

Meski begitu, ia menilai penghematan biaya operasional mampu menutup penurunan nilai jual kendaraan apabila motor digunakan secara rutin.

“Tetapi jika merujuk pada sisi energi paska tahun ke 3, jika kita memakai sekitar 42km/hari atau 15.000 km/tahun, nilai jual kembali yang susut ekstrim tertutupi oleh penghematan signifikan mileage-nya,” tukasnya.

Secara keseluruhan, motor listrik menawarkan keunggulan dari sisi biaya energi, perawatan, dan pajak. Namun, calon pembeli tetap perlu mempertimbangkan faktor lain seperti daya tahan baterai, jarak tempuh, infrastruktur pengisian daya, serta nilai jual kembali sebelum menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#motor bensin #hemat #Biaya Perawatan #motor listrik