Gubernur Provinsi Gauteng Panyaza Lesufi mengatakan, insiden itu terjadi di perkampungan padat penduduk wilayah Boksburg. Aparat sedang memeriksa bagaimana kebocoran bisa terjadi. Termasuk jenis gas yang dihirup para korban. ”Pemandangannya mencekam. Saat saya datang, bau gas masih menyengat,” paparnya seperti dikutip Reuters kemarin (6/7).
Untuk sementara, otoritas menduga gas mematikan tersebut merupakan aset dari kelompok penambang ilegal. Juru Bicara Badan Penanggulangan Bencana Kota Ekurhuleni William Ntladi kepada stasiun TV SABC menyatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah salah seorang korban juga merupakan penambang ilegal.
Yang jelas, pemandangan di kampung itu cukup mengerikan. Sebanyak 16 jasad tergeletak di sejumlah tempat. Tiga di antaranya anak-anak. Ada satu korban saat ditemukan masih bernyawa. Namun, korban tidak bisa bertahan walaupun sempat dibawa ke rumah sakit.
Petugas medis pun harus menyisir lokasi kejadian dengan menggunakan baju hazmat. Sejauh ini mereka terus berupaya melakukan investigasi. ”Mereka masih memastikan bahwa tidak ada lagi tabung gas yang bocor dan berisiko meledak,” kata Ntladi.
Otoritas menduga silinder yang menyebabkan kebocoran tabung gas tersebut dipakai penambang liar untuk memisahkan emas dari kotoran dan bebatuan. Selama ini kawasan Johannesburg memang banyak menampung kelompok penambang emas ilegal. Mereka biasa disebut zama zama.
Maklum, di lokasi itu terdapat cadangan emas yang cukup besar. Hampir sepertiga suplai emas dunia datang dari tambang Witwatersrand di Johannesburg. Sampai saat ini ada sekitar 30 ribu penambang ilegal. Ratusan korban meninggal. Baik karena tambang runtuh, kebocoran gas, maupun pertengkaran antara kelompok zama zama.
Tragedi pada Rabu malam lalu itu mungkin berpotensi memicu kemarahan warga terhadap aktivitas para penambang ilegal. Mereka merupakan pendatang dari negara tetangga yang beroperasi secara terorganisasi. Bahkan, mereka juga kerap dituding sebagai pembawa tindak kejahatan di lingkungan sekitar. Tahun lalu di wilayah barat Johannesburg juga sempat meletus konflik dengan para penambang ilegal. (bil/c9/hud/JP)
Editor : Tanya Rompas