RADARPAPUA - Dalam desa terpencil Buscalan, Filipina, seorang ahli tato terkenal masih menjaga warisan seni tato tradisional.
Meskipun zaman modern telah tiba, desa ini tetap mempertahankan keaslian budaya dan kehidupan yang sederhana.
Menurut Vogue Filipina, desa Buscalan masih minim akses telepon dan hanya sedikit warga yang memiliki akses WiFi.
Namun, rumah-rumah tradisional dari jerami telah digantikan oleh bangunan beton yang lebih kokoh.
Di tengah perubahan tersebut, terdapat seorang perempuan yang menjadi saksi perubahan zaman.
Apo Whang-Od, atau yang dikenal dengan nama Maria Oggay, adalah seorang wanita berusia lebih dari seratus tahun yang telah memiliki tato sejak masa remajanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketenarannya semakin meluas di luar wilayah Cordillera.
Ribuan pengunjung dari seluruh dunia datang untuk merasakan pengalaman yang luar biasa dengan menjalani tato duri yang diwarnai jelaga.
Menurut penelitian dan wawancara antropolog tato, Dr. Lars Krutak, Apo Whang-Od memulai karirnya sebagai seniman tato pada usia 16 tahun di bawah bimbingan ayahnya.
Ia menjadi wanita pertama dan satu-satunya pada masanya yang menjadi ahli tato.
Whang-Od sering melakukan perjalanan dari desa ke desa, dipanggil oleh masyarakat setempat untuk membuat tato.
Bahkan, beberapa prajurit juga menginginkan tato dengan simbol-simbol sakral leluhur mereka.
Tato yang dibuat oleh Whang-Od memiliki berbagai makna.
Beberapa perempuan mendapatkan tato untuk tujuan kesuburan dan kecantikan.
Proses pembuatan tato ini memakan waktu berhari-hari dan memerlukan biaya yang cukup besar.
"Saat pengunjung datang dari jauh," ujar Whang-Od dalam bahasa Butbut.
"Saya akan memberikan mereka tatak Buscalan, tatak Kalinga selama mata saya memandang," tambahnya saat sedang mentato salah satu tim Vogue.(jpg)
Editor : Tina Mamangkey