RADARPAPUA - Pangeran Faisal bin Farhan, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, menegaskan perlunya konsolidasi dalam menolak kebencian dalam sebuah sesi diskusi dengan Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada Selasa (11/7).
Pernyataan ini merespon insiden pembakaran Alquran yang terjadi di Swedia beberapa waktu lalu.
"Pemerintah kerajaan menegaskan perlunya konsolidasi nilai-nilai dialog, toleransi, dan saling menghormati, serta menolak segala sesuatu yang mengarah pada kebencian dan ekstremisme," ucap Faisal seperti yang dikutip dari Arab News, Rabu (12/7).
Kerajaan Saudi dengan tegas mengutuk tindakan pembakaran Alquran yang terjadi di Swedia, karena bertentangan dengan nilai-nilai toleransi.
"Pemerintah kerajaan dengan tegas mengutuk pembakaran salinan Alquran oleh para ekstremis dan menegaskan bahwa tindakan yang tercela ini tidak dapat diterima dengan alasan apapun.
Tindakan tersebut telah menghasut kebencian, pengucilan, dan rasisme.
Mereka secara langsung melanggar upaya internasional dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi, moderasi, dan penghindaran ekstremisme," katanya.
Faisal berpendapat bahwa kecaman internasional terhadap kasus ini adalah bukti bahwa organisasi internasional perlu mengambil tindakan untuk mencegah peristiwa semacam ini terjadi.
Ia juga mengungkapkan harapan Arab Saudi untuk dapat mengadopsi rancangan mengenai "memerangi kebencian agama yang mencakup hasutan diskriminasi, permusuhan, atau kekerasan" melalui sebuah konsensus.
Selain itu, Faisal juga memberikan ucapan selamat kepada Duta Besar Republik Ceko yang terpilih sebagai presiden Dewan Hak Asasi Manusia untuk tahun 2023.
Ia berharap mereka sukses dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.
Sebelumnya, Salwan Momika, seorang pengungsi dari Irak, membakar Alquran di depan sebuah masjid di Stockholm, Swedia saat perayaan Hari Raya Idul Adha.
Akibat insiden pembakaran ini, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengumumkan pertemuan komite di Jeddah untuk membahas konsekuensi dari tindakan tersebut.
Dalam pidato penutupnya, Faisal menekankan pentingnya penggunaan kebebasan berekspresi dengan penuh rasa hormat, moralitas, dan tanpa menyebarkan kebencian yang dapat memicu konflik budaya. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey