Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Duka di Desa Satu Ginjal, Warga Terpaksa Jual Ginjal Demi Kelangsungan Hidup

Tina Mamangkey • Senin, 24 Juli 2023 | 13:55 WIB
Warga Desa Shen Shayba Bazaar, Afghanistan menunjukkan bekas luka penjualan ginjal (4 Februari 2022). (WAKIL KOHSAR/AFP via Getty Images)
Warga Desa Shen Shayba Bazaar, Afghanistan menunjukkan bekas luka penjualan ginjal (4 Februari 2022). (WAKIL KOHSAR/AFP via Getty Images)

RADARPAPUA - Desa Shen Shayba Bazaar di Afghanistan, Dikenal sebagai "One Kidney Village", Warga Terpaksa Jual Ginjal Demi Bertahan Hidup

Desa Shen Shayba Bazaar di dekat Kota Herat, Afghanistan, telah mencuat sebagai pusat perhatian dunia setelah diberi julukan "One Kidney Village" atau desa satu ginjal. Kemiskinan yang melanda desa ini mendorong penduduknya untuk menjual salah satu organ ginjal mereka sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membayar utang.

Dilansir dari laporan National Post, krisis ekonomi luar biasa yang terjadi di negara Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kekuasaan telah menghancurkan perekonomian. Lebih dari separuh populasi, sekitar 24 juta penduduk negara itu, berisiko mengalami kelaparan akibat situasi ini.

Fakta menyedihkan tersebut menunjukkan betapa warga desa ini terpaksa melakukan tindakan yang ekstrem demi bertahan hidup. Mereka menjual organ tubuh mereka, terutama ginjal, untuk memperoleh uang guna membeli makanan dan membayar utang yang menumpuk.

BBaca Juga: Kapal Overload Tenggelam di Buton Tengah, 15 Penumpang Tewas dan 19 Masih Hilang

Dalam situasi yang lebih memprihatinkan, dilaporkan bahwa beberapa orang tua di Desa Shen Shayba Bazaar terpaksa menawarkan anak perempuan mereka sebagai langkah terakhir untuk mencari nafkah. Anak-anak tersebut ditawarkan kepada pasangan yang belum memiliki anak, sebagai bentuk pertukaran untuk sejumlah uang tunai.

"Laporan National Post pada Senin (24/7) menuliskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, selain menjual organ tubuh, terdapat juga laporan tentang orang tua yang menawarkan anak perempuan mereka untuk dijadikan istri atau ditawarkan kepada pasangan yang tidak memiliki anak, semata-mata demi mendapatkan uang karena mereka tidak lagi mampu memberi makan anak perempuan mereka."

Kondisi ekonomi yang mencekik membuat kepala keluarga yang masih memiliki pekerjaan di desa ini hanya dapat mengumpulkan pendapatan yang minim, sekitar 1,5 USD atau sekitar 20 ribu rupiah per hari, yang seringkali tidak mencukupi kebutuhan keluarga mereka.

Sementara itu, sekitar 500 ribu warga Afghanistan telah kehilangan pekerjaan sama sekali. Oleh karena itu, menjual ginjal menjadi salah satu alternatif yang mungkin mereka pertimbangkan untuk tetap bertahan hidup di tengah situasi penuh keterbatasan.

Satu organ ginjal di Desa Shen Shayba Bazaar saat Organisasi Taliban mengambil alih kekuasaan dihargai sangat rendah, sekitar 1.500 USD atau hanya sekitar 20 juta rupiah. Mayoritas hasil dari penjualan ini digunakan untuk membayar utang yang telah menumpuk. Apabila ada sisa uang, mereka akan menggunakannya untuk membeli makanan selama beberapa waktu ke depan.

Proses jual beli ginjal di Afghanistan tampaknya berlangsung dengan mudah, sebab pihak rumah sakit tidak pernah menanyakan asal-usul pendonor atau tujuan penerima organ ginjal tersebut. Hal ini menimbulkan keprihatinan akan penyalahgunaan dan perdagangan manusia yang mungkin terjadi sebagai dampak dari krisis ekonomi yang sedang berlangsung di negara tersebut. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#Desa satu ginjal Afghanistan #desa satu ginjal #Desa Shen Shayba Bazaar