Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Misteri Keffiyeh, Memahami Simbolisme di Balik Syal Palestina yang Terkenal

Tina Mamangkey • Sabtu, 4 November 2023 | 11:16 WIB
Keffiyeh/ Syal Kotak-kotak Hitam Putih (SOPA Images, via Reuters)
Keffiyeh/ Syal Kotak-kotak Hitam Putih (SOPA Images, via Reuters)

RADARPAPUA - Serangan Israel terhadap Palestina telah menarik perhatian dunia, menelan ribuan korban dari berbagai usia, dan merusak bangunan, mulai dari rumah warga hingga tempat ibadah. Reaksi atas kejadian tersebut telah memicu kecaman dari banyak negara.

Protes telah berkembang di seluruh dunia, dengan tuntutan pembebasan Palestina sebagai salah satu fokusnya. Spanduk bertuliskan "Free Palestine" dengan atribut bendera Palestina sering digunakan oleh para pendemo.

Selain itu, banyak yang mengenakan keffiyeh, syal khas Palestina dengan motif kotak-kotak hitam dan putih, sebagai tanda solidaritas.

Keffiyeh, yang juga dikenal sebagai "kufiya," "hatta," atau "shemagh" di masyarakat Palestina, bukan hanya sekadar aksesori mode, melainkan juga sebuah simbol yang mengusung sejarah perjuangan masyarakat Palestina.

Keffiyeh, yang sering terbuat dari katun, sutra, atau wol, berbentuk persegi dengan ukuran standar 120 cm x 120 cm, telah menyebar ke seluruh dunia Arab sebagai hiasan kepala tradisional yang digunakan di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Syal ini memiliki sejarah yang panjang, yang akarnya dapat ditelusuri hingga sekitar tahun 3100 SM di Mesopotamia.

Kata "keffiyeh" berasal dari wilayah Kufah di Irak, yang berarti "dari kota Kufah." Keffiyeh Palestina memiliki ciri khas warna hitam lebih banyak daripada putih, berbeda dari versi Irak yang memiliki lebih banyak warna hitam.

Sejarah awal keffiyeh di Palestina adalah sebagai pakaian yang nyaman digunakan oleh petani untuk melindungi diri dari sinar matahari dan badai pasir.

Namun, seiring berjalannya waktu, keffiyeh menjadi lambang identitas dan perlawanan warga Palestina.

Omar Joseph Nasser-Khoury, seorang perancang busana Palestina, menjelaskan bahwa keffiyeh adalah simbol perampasan, pemindahan paksa, pembunuhan di luar proses hukum, dan penindasan.

Selama pemberontakan Arab di Palestina pada tahun 1936, keffiyeh digunakan untuk menyembunyikan identitas warga Palestina dari otoritas Inggris.

Setelah Inggris mencoba melarang keffiyeh, warga Palestina mengenakannya sebagai bentuk solidaritas, yang membuat otoritas kesulitan memilih rekan-rekan revolusioner dari kerumunan.

Pada tahun 1960-an, mantan presiden otoritas Palestina, Yasser Arafat, semakin memperkuat makna keffiyeh saat berpidato di depan PBB. Sejak saat itu, keffiyeh menjadi lebih populer di tingkat internasional.

Keffiyeh telah menjadi simbol perjuangan dan identitas Palestina, dan saat ini digunakan oleh aktivis HAM, politisi, atlet, dan selebriti di seluruh dunia.

Meskipun mungkin ada perdebatan tentang perampasan budaya, tidak bisa disangkal bahwa keffiyeh memiliki pengaruh global yang kuat.

Sekarang, keffiyeh bukan hanya sekadar aksesori, tetapi juga ekspresi solidaritas dengan perjuangan rakyat Palestina yang tak terucapkan. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#Syal Kotak kotak Hitam Putih #Palestina dan Israel #Keffiyeh Simbol Perlawan Palestina #Keffiyeh