RADARPAPUA - Sekretariat Jenderal PBB, Antonio Guterees, menggambarkan Gaza sebagai 'kuburan bagi anak-anak' dalam pernyataannya pada Senin (6/11).
Pernyataan ini datang sebagai bagian dari upayanya untuk memperkuat tuntutan agar terjadi gencatan senjata mendesak di wilayah tersebut.
Menurut Otoritas Kesehatan Palestina, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Gaza telah melampaui angka tragis 10.000 jiwa.
Dalam angka tersebut, lebih dari 4.000 anak-anak dan 2.600 wanita menjadi korban, sementara lebih dari 2.300 orang masih hilang, terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.
Situasi ini semakin memprihatinkan karena Israel dan Hamas, yang mengendalikan wilayah Gaza, masih belum mencapai kesepakatan gencatan senjata, meskipun mendapat tekanan dari komunitas internasional.
Dalam laporan dari Reuters, Selasa (7/11), kedua belah pihak masih belum mencapai kesepakatan yang memungkinkan gencatan senjata.
Israel menekankan pembebasan sandera yang mereka tuntut dari Hamas sejak penyerangan pada 7 Oktober lalu, sementara Hamas bersikeras untuk membebaskan sandera hanya jika Israel menghentikan serangan di Gaza.
Israel mengklaim bahwa sebanyak 31 tentara mereka telah tewas sejak dimulainya operasi ekspansif mereka di Gaza pada 27 Oktober.
Mereka juga menuduh bahwa Hamas menyembunyikan diri bersama warga sipil dan di fasilitas medis.
Hamas membantah tudingan tersebut dan mendesak PBB untuk mengklarifikasi fakta yang disampaikan oleh Israel.
Korban jiwa diprediksi akan terus bertambah saat pertempuran semakin memanas dan berubah menjadi pertempuran jarak dekat.
Dalam beberapa hari terakhir, serangan udara Israel telah menyasar fasilitas yang dibangun oleh PBB, yang juga berfungsi sebagai tempat perlindungan warga sipil yang mengungsi.
Dampak dari serangan berkelanjutan tersebut telah membuat rumah sakit di Gaza terlampaui kapasitasnya dalam merawat korban luka-luka dan kini mengalami kekurangan peralatan medis yang sangat diperlukan.
Serangan yang melibatkan atap Rumah Sakit Syifa di kota pada Senin (6/11) pagi telah menyebabkan kematian sejumlah pengungsi yang mencari perlindungan di lantai teratas rumah sakit tersebut.
Serangan tersebut juga menghancurkan panel-panel tenaga surya yang digunakan untuk pasokan listrik rumah sakit tersebut. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey