Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Warga Palestina Makan Pakan Ternak, Harris: Segera Gencatan Senjata!

Nur Fadilah • Selasa, 5 Maret 2024 | 09:46 WIB

Ilustrasi: kelaparan di jalur gaza
Ilustrasi: kelaparan di jalur gaza

RADARPAPUA
-Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris tampak murka.

Dia mendesak Israel segera melakukan gencatan senjata di Gaza.

Dia menegaskan tidak ada alasan apapun bagi Israel untuk menolak.

"Mengingat besarnya skala penderitaan di Gaza, gencatan senjata harus segera dilakukan," kata Harris, dilansir CNN, Minggu (4/3).

Harris memastikan pihak Hamas juga menginginkan gencatan senjata.

Dia memastikan ada kesepakatan yang sedang dibahas dan harus ditaati Hamas agar keinginan itu terlaksana.

Baca Juga: Megawati Hangesti Pertiwi Menggila di Korsel, Ninja Berkerudung Pecahkan Rekor di Liga Voli, Bangga Indonesia!

"Hamas mengklaim mereka menginginkan gencatan senjata. Ya, ada kesepakatan yang sedang dibahas.

Dan seperti yang telah kami katakan, Hamas harus menyetujui kesepakatan itu. Mari kita lakukan gencatan senjata.

Mari kita satukan kembali para sandera dengan keluarga mereka. Dan mari kita berikan bantuan segera kepada masyarakat Gaza," ucapnya.

Harris juga merenungkan krisis kemanusiaan di wilayah Gaza. Dia juga mengungkit pembantaian pada konvoi bantuan di Gaza.

"Pemerintah Israel harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan aliran bantuan (ke Gaza) secara signifikan," katanya.

"Tidak ada alasan," lanjutnya.

Terpaksa Makan Pakan Ternak

Kehidupan warga Gaza, Palestina, benar-benar pilu. Warga kini tbertahan dengan makan pakan ternak.

Dilansir Anadolu Agency dan BBC, Minggu (3/3), warga Gaza terpaksa membuat makanan dari bahan pakan hewan ternak gara-gara bahan makanan sudah habis. Kelangkaan bahan pangan dipicu blokade Israel terhadap bantuan ke Gaza.

Salah satu warga Gaza, Abu Qusay Abu Nasser (44), bercerita dirinya dan keluarganya menderita kelaparan hebat karena kekurangan makanan di rumah mereka di Gaza utara.

Dia mengatakan anak-anaknya kadang sampai menjerit-jerit saat terbangun dari tidur akibat kelaparan.

Abu Nasser mengatakan dirinya tak bisa menemukan solusi cepat untuk memberi makan anak-anaknya di tengah perang yang terus terjadi dan blokade Israel yang menyebabkan bahan makanan sulit ditemukan.

Dia mengaku hanya menemukan sedikit bahan yang biasanya diolah menjadi pakan ternak di Gaza saat mencari bahan pangan di pasar kecil di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara.

Sayuran yang dijajakan di sana tampak berjamur.

Dia akhirnya cuma mendapat jagung kering dan selai yang dianggap sebagai pakan ternak di Gaza.

Abu Nasser mengaku ingin menyiapkan roti dari bahan-bahan itu.

Salah satu pedagang juga sempat meletakkan sekantong kentang yang menunjukkan tanda-tanda pembusukan.

Abu Nasser dan orang-orang yang lewat pun bergegas menghampirinya, berharap bisa membeli sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

"Sejak pagi, saya keluar mencari makanan, jagung, dan selai untuk memberi makan anak-anak saya yang kelaparan," kata Abu Nasser.

"Sejak kemarin, saya baru makan satu kurma, dan anak-anak menangis kelaparan. Saya tidak tahu harus berbuat apa.

Saya pergi ke pasar Jabalia, namun saya hanya menemukan jagung kering yang dimaksudkan sebagai pakan ternak untuk membuat roti," sambungnya.

Abu Nasser mengatakan jeda pertempuran selama seminggu pada akhir tahun lalu tak memberi perubahan apapun bagi warga di Gaza utara.

Dia mengatakan bantuan yang datang tidak dapat memenuhi kebutuhan warga di sana.

Abu Nasser mengatakan dia sempat terpaksa mengonsumsi Khubbayza (malva) sejenis tanaman hijau liar.

Namun, katanya, tanaman tersebut tidak tersedia lagi karena banyaknya orang yang berebut bahan pangan.

"Apakah pendudukan Israel menghukum kami dengan tidak menyediakan makanan dan minuman? Apakah karena kami belum semua mengungsi ke Jalur Gaza bagian selatan?" ujarnya.

Dia berharap negara-negara Arab dan muslim segera mengirim bantuan bagi warga Gaza.

Wanita Palestina yang mengungsi di Jabalia, Rawiya Rizq, mengatakan tak ada apapun yang bisa dimakan. Dia mengatakan warga di sana hidup dalam kelaparan.

"Tidak ada makanan, dan kami hidup dalam kelaparan.

Kami mengonsumsi pakan ternak yang jumlahnya semakin sedikit, dan penyakit menyebar dengan cepat.

Anak-anak menderita campak dan hepatitis, sementara orang dewasa menderita diabetes dan tekanan darah tinggi," ujarnya.

Rizq menjelaskan pakan ternak juga langka dan mahal. Jika ada, pakan ternak tiga kilogram dijual dengan harga USD 219 atau setara Rp 3.438.727.

Pekerja bantuan medis di Beit Lahia, Mahmoud Shalabi, mengatakan orang-orang di sana menggiling biji-bijian yang biasanya digunakan untuk pakan ternak menjadi tepung. Namun, katanya, bahan tersebut sudah habis.

"Orang tidak menemukannya di pasar," katanya. "Saat ini alat ini tidak tersedia di bagian utara Gaza dan Kota Gaza."

Dia juga mengatakan stok makanan kaleng sudah habis. Dia mengatakan orang-orang sudah tak punya apapun untuk makan.

"Apa yang kami dapatkan sebenarnya berasal dari enam atau tujuh hari gencatan senjata (pada bulan November) dan bantuan apapun yang diizinkan masuk ke utara Gaza sebenarnya telah dikonsumsi sekarang.

Apa yang dimakan orang-orang saat ini pada dasarnya adalah nasi, dan hanya nasi," ujarnya.

"Kami merasa kematian tidak bisa dihindari. Kami kehilangan lantai atas rumah kami, namun kami masih tinggal di sini meski takut runtuh.

Selama dua minggu, kami tidak dapat menemukan apa pun di pasar; dan jika beberapa produk tersedia, harganya 10 kali lipat dari harga normalnya," ujar Waad.

"Banyak dari kami sekarang meminum air yang tidak dapat diminum. Tidak ada pipa, kami harus menggali untuk mendapatkan air," jelas Mahmoud Salah di Beit Lahia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan malnutrisi PBB baru-baru ini, tingkat malnutrisi akut secara keseluruhan pada anak usia 6-59 bulan di Gaza telah meningkat secara signifikan menjadi 16,2%, melebihi ambang batas kritis sebesar 15% yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Israel telah melancarkan serangan mematikan di Jalur Gaza sejak serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober, menewaskan lebih dari 30 ribu orang dan menyebabkan kehancuran massal dan kekurangan kebutuhan pokok. Sementara, hampir 1.200 warga Israel diyakini telah terbunuh.

Baru-baru ini, Israel melakukan serangan menggunakan drone ke tenda pengungsi yang terletak di dekat Rumah Sakit Bersalin Al-Helal Al-Emirati, Rafah, Gaza, Palestina. Serangan itu menyebabkan 11 orang tewas dan 50 orang terluka.

Dilansir Al Jazeera, Minggu (3/3), pasukan Israel melakukan serangan ke sebuah tenda di Rafah yang menampung warga Palestina yang terlantar pada Sabtu (2/3).

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan serangan itu terjadi di sebelah pintu masuk Rumah Sakit Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Tal as-Sultan, Kota Rafah.

Kepala unit paramedis di rumah sakit tersebut, Abdel Fattah Abu Marhi, tewas akibat serangan tersebut dan sejumlah anak menjadi korban luka.

Delapan jenazah dibawa ke Rumah Sakit Kuwait 'di mana keadaannya sangat kacau'. Fasilitas kecil tersebut tidak siap menghadapi banyaknya korban luka yang tiba di sana.

"Serangan itu menghantam satu tenda, tempat orang-orang berlindung, secara langsung, pecahan peluru masuk ke dalam rumah sakit tempat saya dan teman-teman duduk, kami selamat karena keajaiban," kata seorang saksi mata kepada kantor berita Reuters.(mpd)

Editor : Nur Fadilah
#Israel #gaza #Palestina