RADARPAPUA - Papua Nugini menghadapi bencana besar setelah tanah longsor menghancurkan Desa Yambali di Provinsi Enga, yang menyebabkan sekitar 2.000 orang terkubur hidup-hidup. Tragedi ini terjadi pada Jumat (24/5) pukul 03.00 di kawasan pegunungan yang terpencil. Bencana ini telah mengubah misi penyelamatan menjadi misi pemulihan, seperti yang dinyatakan oleh Niels Kraaier dari UNICEF Papua Nugini.
Upaya penyelamatan dipimpin oleh penduduk setempat, banyak di antara mereka kehilangan seluruh keluarga. "Orang-orang menggali dengan tangan mereka," kata pejabat provinsi Enga, Sandis Tsaka. Hingga kini, baru enam jenazah yang berhasil dievakuasi oleh petugas dan relawan.
Baca Juga: Misteri Mumi Loulan: Rambutnya Masih Utuh Setelah 4.000 Tahun!
UNICEF melaporkan bahwa sekitar 40 persen dari korban adalah anak-anak di bawah usia 16 tahun yang mengalami trauma mendalam. Sementara itu, pihak berwenang setempat berusaha mengevakuasi 7.900 orang untuk mencegah korban lebih lanjut dan mengatasi risiko tanah longsor berikutnya. Namun, usaha ini terhambat oleh rusaknya kebun sayur dan jalan akibat longsor, yang memicu kekhawatiran akan kekurangan pangan di kalangan penduduk desa.
Pj. Direktur Pusat Penanggulangan Bencana Papua Nugini, Luseta Laso Mana, dalam suratnya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Minggu (26/5), secara resmi meminta bantuan dunia internasional. Tsaka juga menegaskan permintaan bantuan tersebut pada pertemuan daring yang diselenggarakan oleh PBB dengan pemerintah asing pada Selasa pagi.
Baca Juga: Politikus Thadeus Osakat Tewas Ditabrak Mobil di Jogja, Pelaku Ditangkap di Semarang
"Seluruh keluarga terkubur di bawah puing-puing, dan semuanya musnah," tambah Tsaka. Ia mengakui bahwa Papua Nugini, salah satu negara termiskin di Asia Pasifik, tidak mampu menghadapi skala tragedi ini sendiri. James Marape, Perdana Menteri Papua Nugini, belum memberikan penjelasan mengenai estimasi jumlah korban yang mencapai 2.000 orang.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) juga belum dapat memastikan jumlah korban akibat tanah longsor di Enga. "Kami tidak bisa membantah apa yang disampaikan pemerintah, tetapi kami juga tidak bisa berkomentar mengenai itu," kata Kepala IOM di Papua Nugini, Serhan Aktoprak.
Baca Juga: Sopir Angkot di Papua Tewas Ditembak KKB, Mobil Dibakar
Kesulitan akses ke Desa Yambali, yang terpencil dan minim jaringan telekomunikasi, serta adanya perang suku di sekitar daerah tersebut, memperparah situasi. Warga yang pertama kali melakukan evakuasi menggunakan alat-alat sederhana seperti sekop dan alat-alat pertanian. Pada Minggu (26/5), seorang pemborong setempat menyumbangkan sebuah ekskavator untuk membantu proses evakuasi.
Tanah longsor ini disebabkan oleh ketidakstabilan tanah di sepanjang jalan yang berdekatan dengan tambang emas Porgera, sekitar 20-30 km dari lokasi bencana. Penduduk yang tinggal di daerah tersebut berharap menemukan emas di tambang terbuka dan tempat pembuangan limbah di dekat tambang emas tersebut.
Baca Juga: Pusat Kegiatan Baru Manokwari: Arena Borarsi Siap Jadi Sorotan!
Papua Nugini berada di peringkat ke-16 negara yang paling berisiko terhadap perubahan iklim dan bencana alam, menurut Indeks Risiko Dunia tahun 2022, meskipun negara ini hanya menyumbang sekitar 0,11 persen emisi gas rumah kaca global. Akibat dari bencana ini, negara tersebut kini memerlukan bantuan internasional yang mendesak untuk mengatasi dampak bencana dan memastikan pengiriman pasokan bantuan dengan cepat. (*)
Editor : Richard Lawongan