RADARPAPUA - Di tengah ketegangan yang masih membayangi wilayah perbatasan Lebanon selatan, sebuah simbol penting bagi masyarakat setempat akhirnya kembali dipulihkan.
Patung Yesus Kristus yang sempat dirusak dalam insiden kontroversial kini berdiri kembali, membawa pesan damai di tengah konflik yang belum sepenuhnya mereda.
Sebuah simbol keagamaan di Lebanon selatan akhirnya kembali berdiri setelah dirusak dalam insiden yang menuai kecaman internasional.
Patung Yesus Kristus di desa Debl, dekat perbatasan Israel, yang sebelumnya dihancurkan oleh tentara Israel, kini telah digantikan oleh pasukan penjaga perdamaian Italia dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Peristiwa ini terjadi di wilayah mayoritas Kristen yang dikenal sebagai kawasan sensitif dalam konflik regional.
Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan seorang tentara Israel merusak bagian kepala patung menggunakan palu besar, memicu reaksi keras dari berbagai pihak internasional.
Dilansir dari CNA, Jumat (24/4/2026), kontingen Italia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon mengambil langkah cepat dengan menyumbangkan serta memasang patung baru di lokasi tersebut sebagai bentuk solidaritas.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyampaikan apresiasi atas tindakan pasukan tersebut. Ia menilai langkah ini sebagai simbol kuat yang membawa pesan harapan, dialog, dan perdamaian di tengah situasi yang masih bergejolak.
Selain itu, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut mencerminkan komitmen Italia dalam menjaga stabilitas dan menjunjung nilai kemanusiaan, sekaligus menunjukkan kepekaan terhadap kondisi sosial dan religius masyarakat setempat.
Sementara itu, militer Israel Defense Forces mengakui insiden tersebut dan telah menjatuhkan sanksi kepada pihak yang terlibat.
Dua tentara dikenai hukuman penahanan selama 30 hari serta dicopot dari tugas tempur, sementara enam lainnya diperiksa karena tidak mencegah kejadian.
Insiden ini terjadi dalam konteks konflik yang lebih luas antara Israel dan kelompok Hezbollah.
Ketegangan meningkat sejak awal Maret dan memicu serangkaian serangan yang berdampak luas.
Dampak konflik tersebut sangat besar. Lebih dari 2.400 orang dilaporkan tewas di Lebanon, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat serangan udara dan operasi militer.
Di pihak Israel, kerugian juga tercatat dengan tewasnya sedikitnya 15 tentara selama operasi berlangsung.
Meskipun gencatan senjata telah diumumkan, situasi di lapangan masih menyisakan dampak kemanusiaan yang serius, dengan korban yang terus ditemukan di bawah reruntuhan bangunan.
Dalam kondisi seperti ini, penggantian patung Yesus di desa Debl tidak sekadar tindakan simbolis, melainkan juga menjadi representasi peran komunitas internasional dalam menjaga nilai perdamaian dan menghormati identitas lokal.
Sebuah simbol keagamaan di Lebanon selatan akhirnya kembali berdiri setelah dirusak dalam insiden yang menuai kecaman internasional.
Patung Yesus Kristus di desa Debl, dekat perbatasan Israel, yang sebelumnya dihancurkan oleh tentara Israel, kini telah digantikan oleh pasukan penjaga perdamaian Italia dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Peristiwa ini terjadi di wilayah mayoritas Kristen yang dikenal sebagai kawasan sensitif dalam konflik regional.
Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan seorang tentara Israel merusak bagian kepala patung menggunakan palu besar, memicu reaksi keras dari berbagai pihak internasional.
Dilansir dari CNA, Jumat (24/4/2026), kontingen Italia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon mengambil langkah cepat dengan menyumbangkan serta memasang patung baru di lokasi tersebut sebagai bentuk solidaritas.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyampaikan apresiasi atas tindakan pasukan tersebut.
Ia menilai langkah ini sebagai simbol kuat yang membawa pesan harapan, dialog, dan perdamaian di tengah situasi yang masih bergejolak.
Selain itu, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut mencerminkan komitmen Italia dalam menjaga stabilitas dan menjunjung nilai kemanusiaan, sekaligus menunjukkan kepekaan terhadap kondisi sosial dan religius masyarakat setempat.
Sementara itu, militer Israel Defense Forces mengakui insiden tersebut dan telah menjatuhkan sanksi kepada pihak yang terlibat.
Dua tentara dikenai hukuman penahanan selama 30 hari serta dicopot dari tugas tempur, sementara enam lainnya diperiksa karena tidak mencegah kejadian.
Insiden ini terjadi dalam konteks konflik yang lebih luas antara Israel dan kelompok Hezbollah. Ketegangan meningkat sejak awal Maret dan memicu serangkaian serangan yang berdampak luas.
Dampak konflik tersebut sangat besar. Lebih dari 2.400 orang dilaporkan tewas di Lebanon, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat serangan udara dan operasi militer.
Di pihak Israel, kerugian juga tercatat dengan tewasnya sedikitnya 15 tentara selama operasi berlangsung.
Meskipun gencatan senjata telah diumumkan, situasi di lapangan masih menyisakan dampak kemanusiaan yang serius, dengan korban yang terus ditemukan di bawah reruntuhan bangunan.
Dalam kondisi seperti ini, penggantian patung Yesus di desa Debl tidak sekadar tindakan simbolis, melainkan juga menjadi representasi peran komunitas internasional dalam menjaga nilai perdamaian dan menghormati identitas lokal.
Namun demikian, upaya simbolis saja belum cukup untuk meredakan konflik yang lebih besar.
Tanpa solusi politik yang menyeluruh dan komitmen kuat dari semua pihak, ketegangan di kawasan berpotensi terus berlanjut. (*)
Editor : Tina Mamangkey