RADARPAPUA - Cacar Monyet atau Monkeypox adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus monkeypox.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok usia yang melakukan kontak dengan penderita.
Menurut databoks, pada tanggal 1 November 2023, tercatat ada 27 kasus Cacar Monyet atau Monkeypox di Jakarta.
Selain Jakarta, kasus Monkeypox juga telah muncul di Bandung, dengan data dari Dinkes Bandung mencatat satu kasus Monkeypox.
Virus Cacar Monyet atau Monkeypox pertama kali ditemukan di Denmark pada tahun 1958 dari seekor monyet yang digunakan dalam penelitian.
Kasus pertama penyakit ini tercatat di Republik Demokratik Kongo pada tahun 1970, saat seorang anak laki-laki berusia 9 tahun terinfeksi.
Bagaimana Penularan Cacar Monyet atau Monkeypox Terjadi?
Siapa pun dapat tertular penyakit Cacar Monyet atau Monkeypox.
Menurut who.int, penularan umumnya terjadi melalui kontak langsung melalui kulit dengan penderita, pernapasan saat bertemu, kontak mulut ke mulut, kontak mulut ke kulit, atau kontak dengan air liur penderita.
Selain penularan dari manusia ke manusia, Cacar Monyet atau Monkeypox juga dapat menular melalui hewan, seperti cakaran, gigitan, atau mengonsumsi hewan yang terinfeksi.
Namun, hingga saat ini, WHO masih melakukan penelitian tentang tingkat penyebaran virus Monkeypox melalui hewan.
Penting untuk Mewaspadai Gejala Orang yang Terinfeksi Virus Monkeypox
Gejala Cacar Monyet atau Monkeypox
Gejala Cacar Monyet atau Monkeypox biasanya muncul dalam rentang waktu satu hingga 21 hari setelah terpapar virus.
Gejala dapat berlangsung selama 2 hingga 4 minggu, tergantung pada kekuatan sistem kekebalan tubuh individu.
Gejala umum penyakit Monkeypox meliputi ruam, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, kelemahan, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Gejala awal biasanya melibatkan sakit tenggorokan dan demam, yang kemudian diikuti oleh munculnya ruam yang menyebar ke seluruh tubuh.
Jika Anda mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas, penting untuk melakukan isolasi diri dan menghindari kontak dengan orang lain. Selanjutnya, segera konsultasikan dengan dokter jika muncul bintil berisi cairan yang kemudian berubah menjadi nanah. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey