Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Cacar Monyet vs Cacar Air, Ini Perbedaannya

Tina Mamangkey • Jumat, 3 November 2023 | 07:32 WIB
Ilustrasi perbedaan gejala cacar monyet dengan cacar biasa. (Fk.ui.ac.id)
Ilustrasi perbedaan gejala cacar monyet dengan cacar biasa. (Fk.ui.ac.id)

RADARPAPUA - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) memberikan peringatan kepada masyarakat untuk memahami gejala sistemik cacar monyet (Monkeypox) saat tubuh sudah terinfeksi penyakit ini.

Sejumlah kasus Monkeypox telah terdeteksi di Indonesia, terutama di wilayah Jakarta. Meskipun gejalanya mirip dengan cacar air, PB IDI menegaskan terdapat perbedaan penting.

Ketua Satuan Tugas Mpox PB IDI, Hanny Nilasari, menjelaskan, "Gejala Monkeypox atau Mpox ini mirip dengan gejala cacar air atau yang sering disebut juga dengan varicella." Namun, ia menekankan perbedaan kunci, yakni "orang terinfeksi cacar monyet mengalami gejala pembengkakan kelenjar getah bening atau lymphadenopathy, sedangkan penderita cacar air tidak ada gejala itu."

Gejala sistemik cacar monyet meliputi nyeri kepala, demam akut dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius, dan nyeri tenggorokan yang diikuti oleh pembengkakan kelenjar getah bening.

Selain itu, ruam kemerahan akan muncul di kulit, mulai dari satu atau dua titik dan menyebar secara regional.

Hanny menjelaskan, "Penyebaran regional ini maksudnya misal ada ruam di area lengan kemudian area genital, ada di area tungkai, dan lainnya, jadi tersebar-sebar." Kelainan kulit lainnya, seperti bintil, lenting, dan keropeng, juga dapat terjadi.

Kasus Monkeypox yang baru-baru ini terdeteksi di Indonesia tampaknya lebih ringan dibandingkan dengan kasus sebelumnya. Jumlah ruam atau lesi yang terjadi pada tubuh penderita lebih sedikit, yaitu kurang dari 20 lesi. Sebelum tahun 2022, jumlah ruam atau lesi pada kasus Monkeypox lebih dari 100 lesi.

Per data Kementerian Kesehatan per 31 Oktober 2023, terdapat 30 kasus konfirmasi cacar monyet di Indonesia, dengan 24 kasus di DKI Jakarta, lima kasus di Jawa Barat, dan satu kasus di Banten.

Untuk mengatasi kasus cacar monyet di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya surveilans dan vaksinasi terhadap populasi kunci yang berisiko.

Selain itu, penting untuk mengutamakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta berhubungan seks dengan aman, karena penularan Monkeypox dapat terjadi melalui hubungan intim. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#Cacar Monyet #gejala #pb idi #monkeypox