Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Sering Pakai Celana Ketat, Kesuburan Pria Terancam

Tina Mamangkey • Senin, 18 Desember 2023 | 07:58 WIB
Dokter RSIA Ferina Surabaya dr Aucky Hinting PhD SpAnd (K). (Istimewa)
Dokter RSIA Ferina Surabaya dr Aucky Hinting PhD SpAnd (K). (Istimewa)

RADARPAPUA - Terkait dengan pernikahan yang telah berlangsung bertahun-tahun namun belum juga mendapatkan momongan, perlu diwaspadai kemungkinan sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi adalah sperma kosong.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam sebuah acara talkshow yang diadakan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Ferina Surabaya.

Dalam konteks kesehatan, kondisi sperma kosong lebih dikenal dengan istilah azoospermia, yang merupakan salah satu penyebab kemandulan pada pria.

Dokter RSIA Ferina, dr Aucky Hinting PhD SpAnd (K), menyampaikan bahwa pasien dengan sperma kosong mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun dan kondisinya tampak baik-baik saja.

"Sperma kosong ini baru bisa diketahui setelah pasien melakukan pemeriksaan dengan analisis sperma," kata Aucky Hinting dalam talkshow yang dihelat di RSIA Ferina Surabaya pada tanggal 17 Desember.

Tentu saja, pertanyaan muncul: Apa penyebab seseorang mengalami sperma nol atau hampir nol? Menurut Aucky Hinting, terdapat 2-3 kemungkinan penyebab sperma yang buruk atau nol.

Pertama, bisa disebabkan oleh faktor genetik (kelainan bawaan). Kedua, dapat disebabkan oleh gangguan fungsi organ (hormon terganggu), dan ketiga, adanya saluran yang buntu.

"Meskipun orangnya mungkin terlihat normal, namun saluran spermanya bisa menjadi buntu.

Penyebabnya bisa bersifat genetik atau disebabkan oleh infeksi. Oleh karena itu, langkah pertama yang dilakukan adalah analisis sperma," ungkap Aucky Hinting.

Setelah hasil analisis menunjukkan sperma nol, Aucky Hinting menyarankan agar pasien melakukan pemeriksaan darah hormon, khususnya FSH dan testosteron.

Di RSIA Ferina, pasien dapat memanfaatkan berbagai layanan, seperti stimulasi spermatogenesis hingga kultur embrio dengan teknologi timelapse.

"Jika FSH dan testosteron berada dalam batas normal, kemungkinan pasien mengalami saluran buntu.

Apakah itu disebabkan oleh faktor bawaan atau penyebab lain seperti infeksi.

Jika kadar hormon FSH rendah, pasien perlu mendapatkan suntikan.

Namun, jika FSH tinggi, maka dapat terjadi kerusakan pada testis," tambah Aucky Hinting.

Selain faktor-faktor tersebut, Aucky Hinting juga menekankan bahwa gaya hidup yang tidak sehat dapat berpengaruh.

Misalnya, pekerja yang tidak memiliki pola hidup yang teratur dan mudah stres, terutama bagi mereka yang menggunakan celana yang sangat ketat.

"Hindari penggunaan celana ketat, berikan keleluasaan pada area tersebut," pesan Aucky Hinting. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#Menikah #kemandulan #Rumah Sakit #RSIA Ferina Surabaya