RADARPAPUA - Emosi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita, memberikan informasi yang mengingatkan kita pada nilai-nilai yang mendasari pengalaman, kebutuhan, serta preferensi dan ketidaksetujuan kita.
Namun, mengelola perasaan seringkali menjadi tantangan, terutama ketika kita mengabaikannya atau tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya, sehingga akhirnya kita memendamnya.
Meskipun pendekatan ini mungkin tampak efektif dalam jangka pendek, perasaan yang tertekan dapat menyebabkan masalah kesejahteraan yang lebih besar seperti kecemasan, depresi, fobia, maag, fibromyalgia, dan masalah pencernaan lainnya.
Mengelola emosi dan memenuhi kebutuhan kita menjadi sulit ketika kita tidak benar-benar menyadari apa yang sebenarnya kita rasakan.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali emosi dan memahami cara mengatasi mereka agar tidak menimbulkan luka batin berkepanjangan.
Dalam usaha untuk memahami emosi lebih lanjut, kita dapat merujuk pada penjelasan yang dikutip dari sumber-sumber seperti mindfulnessmuse.com dan acfmw.com.
Cara Mengenali Emosi
1. Apa yang terjadi?
Langkah ini mendorong Anda untuk menggambarkan peristiwa emosional yang terjadi kepada Anda secara lengkap.
Cobalah untuk hanya berpegang pada fakta pada langkah ini (bukan interpretasi).
2. Mengapa situasi itu terjadi?
Anggap ini sebagai kesempatan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab peristiwa emosional tersebut.
Alasan langkah ini sangat penting adalah karena seringkali makna yang kita berikan pada peristiwa-peristiwa itulah yang menentukan reaksi emosional kita.
Misalnya, jika Anda berencana pergi ke bioskop bersama seorang teman dan dia membatalkannya pada menit-menit terakhir, penafsiran Anda tentang alasan dia membatalkannya akan secara langsung memengaruhi respons emosional Anda.
Pertimbangkan perbedaan perasaan Anda jika Anda memilih menanggapi peristiwa tersebut dengan dua penafsiran berbeda, lihatlah mana yang lebih baik.
“Dia selalu terlalu sibuk untukku. Kurasa dia bukan teman yang baik”.
“Saya tahu dia punya proyek besar yang harus diselesaikan besok. Dia mungkin sibuk mengerjakannya malam ini.”
3. Bagaimana emosi Anda tersebut memengaruhi psikis dan fisik Anda?
Luangkan waktu untuk mengidentifikasi respons emosional primer dan sekunder Anda terhadap peristiwa tersebut.
Perhatikan sensasi fisik apa pun yang mungkin Anda alami (misalnya, tenggorokan terasa sesak, perut mual, atau rahang menegang).
4. Apa yang ingin Anda lakukan terhadap emosi Anda?
Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong Anda untuk mengidentifikasi dorongan Anda.
Langkah ini membutuhkan kejujuran penuh pada diri Anda sendiri agar proses ini menjadi efektif.
Memang menyakitkan untuk mengakui pada diri sendiri beberapa dorongan yang kita rasakan saat mengalami reaksi emosional.
Saat kita diliputi oleh emosi, mungkin ada dorongan untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang mungkin akan Anda sesali di kemudian hari.
Saat Anda mulai mengamati emosi Anda secara akurat apa yang ingin Anda lakukan pada saat emosi yang kuat, Anda dapat membandingkannya dengan apa yang sebenarnya harus Anda lakukan.
Saat emosi menguasai pikiran kita, sering kali kita tidak benar-benar bertindak dengan benar.
Jika Anda bisa mengendalikan dorongan hati Anda itu, kemungkinan besar Anda juga bisa mengendalikan dorongan lain di lain waktu.
5. Apa yang Anda lakukan dan katakan saat emosi?
Dalam langkah mengenali emosi, Anda perlu mengidentifikasi apa yang biasanya Anda lakukan sebagai akibat dari emosi Anda.
Sekalipun Anda tidak memberikan respons yang ideal dan seharusnya, jujurlah pada diri sendiri tentang cara Anda menangani situasi tersebut dan jadikan kesalahan apa pun sebagai pengalaman belajar untuk kedepannya.
6. Bagaimana emosi dan tindakan Anda memengaruhi Anda di kemudian hari?
Dalam langkah terakhir mengenali emosi, Anda didorong untuk mengidentifikasi konsekuensi jangka panjang dari tindakan Anda.
Bagaimana kata-kata/tindakan Anda selama peristiwa yang provokatif secara emosional berdampak pada kesejahteraan jangka panjang Anda?
Misalnya, jika Anda memilih untuk mengatasi emosi yang berlebihan atau menjengkelkan dengan mengatakan sesuatu yang menyakitkan kepada seseorang yang Anda cintai.
Dikemudian hari, mungkin perilaku tersebut akan menimbulkan kurangnya kedekatan, rasa bersalah, atau perasaan sakit hati.
Cara Mengatasi Emosi agar Tidak Menimbulkan Luka Batin Berkelanjutan
1. Keluarkan Emosi Anda dengan Cara Positif yang Anda Sukai
Anda mungkin bisa menangis karena kehilangan, kesedihan, dan pengalaman menyakitkan Anda.
Ada pepatah yang mengatakan, “Menangislah sampai tidak sakit lagi.” Dan itu wajar.
Namun, apakah Anda masih terus memikirkannya? Apakah Anda akan tetap berada di masa lalu itu selamanya? Jika mau, Anda dapat mencoba sesuatu yang produktif untuk membantu Anda mengatasi tantangan dan hambatan hidup.
Beberapa orang mengatasi Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) dengan meninju tas yang berat untuk melepaskan ketegangan ekstrem di dalam diri mereka.
Ini memang cara yang efektif untuk mengatasi rasa sakit emosional yang parah.
Jika rasa sakit emosional Anda tidak terlalu parah, Anda dapat mencoba hobi baru, fokus pada karier, atau melakukan hal-hal yang Anda sukai.
Cobalah untuk mengalihkan perhatian Anda dengan sesuatu yang lebih positif.
2. Gerakkan Tubuh Anda
Bahkan jika rasa sakit emosional mungkin melahap Anda, Anda harus terus bangkit dan bergerak.
Jangan biarkan emosi itu menggerogoti fisik dan psikis Anda lebih jauh lagi.
Cobalah berolahraga atau aktivitas baru seperti hiking, bersepeda, dan yoga.
Perlu di ingat, lakukanlah aktivitas fisik yang menyenangkan. Melakukan latihan fisik dengan rasa senang adalah cara yang bagus untuk mengatasi perasaan sakit emosional.
Jalan-jalan lebih bermanfaat untuk mood dibandingkan browsing media sosial.
3. Kendalikan Kecemasan atau Depresi Anda
Kecemasan atau depresi bisa jadi disebabkan oleh rasa sakit emosional dari dalam diri Anda.
Sebisa mungkin kendalikanlah kecemasan dan depresi Anda dengan relaksasi, manajemen stres, dan restrukturisasi kognitif.
Apalagi, teknik relaksasi merupakan salah satu yang mengurangi rasa sakit emosional dengan membiarkan otot-otot Anda rileks dan memperdalam pernapasan Anda.
4. Bergabunglah Menjadi Sukarelawan
Menjadi sukarelawan meningkatkan kepercayaan diri dan tujuan Anda. Ini juga bisa menjadi cara untuk mengatasi rasa sakit emosional.
Anda akan mempelajari keterampilan baru, membentuk atau memperkuat ikatan komunitas Anda, mendapatkan pengalaman baru, dan bertemu orang baru.
Ada banyak manfaat menjadi sukarelawan, hal ini juga tidak memerlukan komitmen jangka panjang atau menyita banyak waktu Anda.
Selain itu, menjadi seorang sukarelawan tidak hanya baik bagi orang-orang yang membutuhkan, tetapi juga baik untuk menyalurkan emosi Anda secara positif.
5. Tuliskan Emosi Anda Dalam Jurnal
Menuliskan emosi memberi Anda kebebasan. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat apa yang Anda tulis.
Tidak akan ada juga yang mengkritik. Anda akan dengan bebas menyalurkan segala emosi Anda.
Melalui jurnal tersebut, Anda akan merefleksikan, menganalisis, dan belajar mengubah emosi Anda yang terpendam itu sehingga rasa sakit yang ditimbulkan spat terobati.
6. Temui Terapis
Peran terapis sangatlah penting. Jika Anda mengalami masalah kesehatan mental atau emosional yang mengganggu kehidupan sehari-hari dan cara di atas tidak mampu mengatasinya, Anda mungkin memerlukan terapi.
Beberapa terapi yang akan ditawarkan oleh terapis diantaranya terapi perilaku kognitif, psikoterapi atau pendekatan pemecahan masalah (terapi kelompok). (jpg)
Editor : Tina Mamangkey