RADARPAPUA - Memiliki rambut putih atau uban setelah usia 40 tahun dianggap sebagai bagian dari proses alami penuaan.
Namun, apa yang terjadi jika perubahan tersebut terjadi pada usia yang lebih muda?
Begitu banyak anak muda yang saat ini menghadapi masalah dengan rambut putih.
Meskipun dalam banyak kasus ini dianggap sebagai dampak genetik, ternyata masalah tersebut juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor kesehatan yang mendasarinya.
Ketika folikel rambut tidak lagi menghasilkan melanin secara cukup melalui sel pigmen, maka perubahan warna rambut menjadi tak terhindarkan.
Faktor-faktor seperti stres, perubahan hormonal, dan bahkan kondisi medis seperti vitiligo dapat menjadi pemicu perubahan tersebut.
Seperti halnya dengan rambut rontok yang sering dialami pada usia muda, perubahan warna rambut pun bisa terjadi lebih awal dari yang diharapkan.
Dilansir JawaPos.com dari Healthshots, Kamis (8/2), dermatolog Rinky Kapoor menyebutkan 11 penyebab umum munculnya uban di usia muda.
1. Genetika
Salah satu faktor paling signifikan penyebab uban di usia dini ialah genetik. Jika orang tua atau kakek nenek mengalami rambut putih dini, kemungkinan besar kamu juga akan mengalaminya.
Gen tertentu mengontrol produksi melanin, pigmen yang bertanggung jawab atas warna rambut.
2. Stres oksidatif
Stres oksidatif terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh.
Faktor eksternal seperti polusi, radiasi UV, dan pola makan tidak sehat berkontribusi terhadap stres oksidatif.
Dokter Kapoor menjelaskan stres ini dapat merusak melanosit yang bertanggung jawab atas warna rambut menyebabkan rambut putih atau beruban.
3. Kekurangan vitamin
Asupan vitamin dan mineral penting yang tidak memadai terutama vitamin B12, zat besi, dan zinc menyebabkan rambut memutih.
Nutrisi ini berperan penting dalam produksi melanin dan menjaga kesehatan folikel rambut.
4. Hormon
Perubahan hormonal dalam tubuh terutama saat pubertas, kehamilan, atau menopause dapat memengaruhi pigmentasi rambut.
Fluktuasi hormon seperti hormon perangsang melanosit (MSH) dan kortisol dapat memicu rambut putih, kata Kapoor.
5. Stres kronis
Paparan stres berkepanjangan memicu pelepasan hormon stres sehingga memengaruhi berbagai fungsi tubuh termasuk warna rambut.
Stres kronis atau tingkat tinggi mempercepat penipisan melanosit menyebabkan rambut putih.
6. Merokok
Merokok dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan dan rambut putih dini jadi salah satunya.
Hal ini terjadi karena merokok memasukkan racun berbahaya ke dalam tubuh, mengganggu proses alami termasuk produksi melanin.
7. Vitiligo
Vitiligo, suatu kondisi kulit di mana sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel-sel pigmen.
Meskipun penyakit ini terutama menyerang kulit, vitiligo juga memengaruhi warna rambut.
Dalam beberapa kasus, penderita vitiligo mungkin mengalami uban dini pada rambut karena hilangnya sel pigmen.
8. Gangguan tiroid
“Kondisi medis tertentu seperti kelainan tiroid (hipotiroidisme atau hipertiroidisme) dan anemia, serta pengobatan seperti kemoterapi memengaruhi warna rambut,” ungkap Kapoor.
9. Produk rambut kimia
Penggunaan bahan kimia keras secara berlebihan, perawatan rambut seperti pemutih atau bahan pewarna dapat merusak batang rambut dan memengaruhi melanosit.
Paparan bahan kimia ini secara terus-menerus menyebabkan rambut putih dengan mengganggu pigmentasi alami rambut.
10. Gangguan autoimun
Gangguan autoimun tertentu, di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel tubuh sendiri memengaruhi warna rambut.
Kondisi seperti alopecia areata dapat menyebabkan rambut rontok dan perubahan pigmentasi termasuk rambut putih.
11. Polutan
Polutan lingkungan seperti polusi udara berdampak buruk pada kesehatan rambut. Polutan ini menghasilkan radikal bebas berkontribusi terhadap stres oksidatif dan berpotensi mempercepat penuaan.
Adapun tips mencegah rambut putih yakni konsumsi makanan sehat seimbang, meditasi atau yoga, hindari pewarnaan rambut bahan kimia, rutin pijat kepala, pakai topi atau pelindung kepala saat di luar ruangan, dan minum cukup air agar terhidrasi. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey