RADARPAPUA - Secangkir kopi kerap menjadi andalan untuk menjaga mata tetap terjaga di tengah kesibukan.
Bagi sebagian orang, minum kopi bahkan sudah menjadi rutinitas yang dilakukan lebih dari sekali dalam sehari, terutama ketika pekerjaan menumpuk atau rasa kantuk mulai datang.
Meski dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, konsumsi kafein secara berlebihan bisa memunculkan berbagai reaksi pada tubuh.
Tanda-tandanya pun tidak selalu berupa jantung berdebar. Sejumlah perubahan lain dapat muncul secara perlahan dan sering kali tidak langsung dikaitkan dengan kebiasaan minum kopi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menjelaskan bahwa respons seseorang terhadap kafein dapat berbeda-beda.
Berat badan, obat yang sedang dikonsumsi, serta tingkat sensitivitas tubuh terhadap kafein dapat memengaruhi seberapa kuat efek yang dirasakan.
Berikut delapan tanda yang perlu diperhatikan ketika konsumsi kopi atau kafein mulai terlalu banyak.
1. Pola tidur mulai terganggu
Perubahan pada kualitas tidur dapat menjadi salah satu tanda awal yang kerap luput diperhatikan.
Kafein merupakan stimulan yang membuat tubuh lebih waspada. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan atau terlalu dekat dengan waktu tidur, kafein dapat membuat seseorang lebih sulit terlelap. Akibatnya, waktu tidur bisa berkurang atau kualitas istirahat menjadi tidak optimal.
FDA juga mencatat insomnia dan gangguan tidur sebagai salah satu tanda konsumsi kafein berlebihan.
Jika belakangan ini Anda mulai kesulitan tidur setelah jumlah kopi yang dikonsumsi meningkat, kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.
2. Jantung terasa berdebar
Jantung yang berdetak lebih cepat setelah minum beberapa cangkir kopi juga patut diperhatikan.
Palpitasi atau sensasi jantung berdebar dapat muncul ketika tubuh mendapatkan terlalu banyak kafein. Pada sebagian orang, konsumsi kafein berlebihan juga dapat meningkatkan denyut jantung.
Baca Juga: Kopi Hitam atau Kopi Susu, Mana yang Lebih Sehat untuk Diminum Setiap Hari?
Kondisi tersebut tidak selalu menandakan masalah serius. Namun, apabila jantung berdebar sering terjadi, terasa berat atau muncul bersamaan dengan keluhan lain, sebaiknya tidak diabaikan dan perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
3. Lebih sering gelisah dan gugup
Kafein memang dapat membuat seseorang lebih waspada dan berenergi. Namun, jumlah yang terlalu banyak justru dapat membuat tubuh terasa terlalu aktif.
Rasa gugup, gelisah, mudah tegang hingga sulit merasa tenang dapat menjadi efek dari konsumsi kafein berlebihan. FDA memasukkan kecemasan dan rasa gugup sebagai beberapa tanda yang dapat muncul akibat terlalu banyak kafein.
Karena itu, jika rasa gelisah mulai meningkat setelah kebiasaan minum kopi bertambah, perhatikan apakah kedua hal tersebut terjadi dalam waktu yang berdekatan.
4. Tangan atau tubuh terasa gemetar
Konsumsi kafein berlebihan juga dapat membuat tangan lebih sulit diam atau tubuh terasa gemetar.
Sebagai stimulan, kafein pada sebagian orang dapat memicu tremor atau sensasi tubuh bergetar. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry juga mencatat tremor sebagai salah satu efek yang dapat muncul setelah konsumsi kafein.
Gejala tersebut bisa lebih mudah dirasakan oleh orang yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kafein.
5. Perut terasa tidak nyaman
Efek kopi tidak hanya berkaitan dengan sistem saraf. Sistem pencernaan juga dapat ikut merasakan dampaknya ketika asupan kafein terlalu tinggi.
Sebagian orang dapat mengalami sakit atau rasa tidak nyaman pada perut, mual hingga penurunan nafsu makan. FDA memasukkan gangguan perut dan mual sebagai tanda yang dapat muncul ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak kafein.
Jika keluhan pencernaan terus berulang, jangan hanya memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Jumlah kopi serta minuman atau produk lain yang mengandung kafein juga perlu diperhitungkan.
6. Sakit kepala
Sakit kepala juga dapat berkaitan dengan kafein, terutama ketika jumlah konsumsi mengalami perubahan.
Selain akibat konsumsi berlebihan, orang yang sudah terbiasa mengonsumsi kafein setiap hari juga bisa mengalami gejala ketika asupan kafein tiba-tiba dikurangi atau dihentikan. Gejala yang mungkin muncul antara lain sakit kepala, kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi.
Karena itu, apabila tubuh sudah terbiasa mendapatkan kafein setiap hari, perubahan jumlah konsumsi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan respons tubuh.
7. Merasa perlu minum kopi lebih banyak
Kebutuhan untuk terus menambah jumlah kopi merupakan tanda yang sering kali tidak disadari.
Misalnya, satu cangkir kopi sebelumnya sudah cukup membuat tubuh tetap terjaga, tetapi kini diperlukan beberapa cangkir untuk mendapatkan efek yang sama. Kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa tubuh mulai mengalami toleransi terhadap kafein.
Penggunaan kafein dalam jangka panjang dapat membuat seseorang membutuhkan dosis lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sebelumnya bisa diperoleh dari jumlah yang lebih sedikit.
Jika hal tersebut mulai terjadi, kebiasaan minum kopi sebaiknya dievaluasi. Menambah jumlah kopi terus-menerus bukan solusi untuk mempertahankan efek kafein.
8. Tetap merasa lelah meski sudah minum kopi
Kopi sering dijadikan cara cepat untuk melawan rasa kantuk. Namun, kafein tetap tidak dapat menggantikan kebutuhan tubuh terhadap tidur dan istirahat yang cukup.
Ketika seseorang terus menambah konsumsi kopi karena merasa lelah, sementara waktu tidur semakin berkurang atau kualitas tidur terganggu, terbentuk siklus yang kurang baik.
Kafein memang dapat membuat tubuh lebih terjaga, tetapi konsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur justru berpotensi mengganggu kualitas istirahat.
Artinya, rasa lelah yang tidak kunjung hilang bukan selalu tanda bahwa tubuh membutuhkan kopi tambahan. Bisa jadi tubuh justru membutuhkan waktu istirahat yang lebih baik.
Berapa banyak kafein yang tergolong terlalu banyak?
Jumlah kafein yang dianggap berlebihan tidak dapat disamaratakan untuk setiap orang. FDA menyebut sekitar 400 miligram kafein per hari sebagai jumlah yang umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif bagi sebagian besar orang dewasa sehat.
Meski demikian, tingkat sensitivitas terhadap kafein berbeda pada setiap orang. Seseorang dapat mengalami efek samping meski mengonsumsi kafein dalam jumlah yang lebih rendah.
Selain kopi, kafein juga dapat ditemukan dalam teh, minuman bersoda, cokelat dan berbagai produk lainnya. Oleh sebab itu, memperhitungkan asupan kafein tidak cukup hanya dengan menghitung berapa cangkir kopi yang diminum dalam sehari.
Batas konsumsi untuk anak dan remaja juga berbeda. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menyarankan anak di bawah 12 tahun menghindari konsumsi kafein secara rutin. Sementara itu, remaja berusia 12-18 tahun disarankan membatasi konsumsi kafein hingga maksimal sekitar 100 miligram per hari.
Jangan abaikan sinyal dari tubuh
Menentukan apakah konsumsi kopi sudah terlalu banyak bukan hanya soal menghitung jumlah cangkir dalam sehari. Reaksi tubuh terhadap kafein juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Gangguan tidur, jantung berdebar, rasa gelisah, tubuh gemetar, sakit kepala hingga masalah pencernaan dapat menjadi sinyal bahwa asupan kafein perlu dievaluasi.
Kopi tetap dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, tetapi sebaiknya tidak digunakan untuk menggantikan tidur dan istirahat.
Jika keluhan seperti jantung berdebar atau gangguan tidur terus berulang hingga mengganggu aktivitas, sebaiknya bicarakan dengan orang tua atau wali dan pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. (atr)
Editor : Tina Mamangkey