RADARPAPUA - Melangkah ke masa dewasa tidak pernah mudah, terutama ketika kita telah merasakan cinta atau menjalin hubungan dengan seseorang.
Seperti kata bijak yang mengatakan, "Proses pematangan tidak pernah berjalan mulus." Masuk ke dalam dunia cinta dan hubungan sering kali menjadi perjalanan yang penuh dengan lika-liku, dan terkadang, akhirnya berakhir di tengah jalan menjadi pilihan yang harus dihadapi oleh banyak individu.
Untungnya, beberapa hubungan cinta berakhir dengan bahagia di pelaminan. Sayangnya, banyak juga yang harus menghadapi kegagalan dalam hubungan, dan hal ini seringkali menimbulkan masalah emosional yang dalam dan kompleks bagi mereka yang mengalaminya.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan sepasang kekasih memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Hal ini bisa terjadi karena ketidaksesuaian, kehilangan perasaan, atau bahkan karena munculnya pihak ketiga dalam hubungan tersebut.
Bagi banyak orang, berpisah dari orang yang mereka cintai bisa meninggalkan luka batin yang sulit sembuh, dan ada juga yang tak mampu melepaskan mantan kekasih mereka.
Pada beberapa kasus, orang yang pernah mengalami patah hati bisa mengalami ketakutan untuk jatuh cinta lagi, karena takut mengalami luka hati sekali lagi. Apakah Anda tahu bahwa ketakutan ini memiliki dasar medis dan disebut dengan istilah Philopobia?
Apa itu Philopobia dan apa penyebabnya?
Dilansir dari alodokter, Philopobia adalah perasaan takut untuk kembali menjalin hubungan karena rasa sakit hati yang sebelumnya pernah dirasakan. Penyebabnya pun beragam, di antaranya:
- Kegagalan dalam menjalin sebuah hubungan. Boleh jadi, pengidap Philopobia pernah mengalami kegalalan dengan luka amat membekas.
- Riwayat penolakan, beberapa orang bisa mengalami Philopobia karena mendapat penolakan dari orang yang dicintainya, atau merasa diabaikan oleh orang terdekat.
- Kurangnya perhatian saat masih anak-anak, sehingga merasa takut untuk berinteraksi dengan orang baru.
Ciri-ciri Philopobia
Selain ciri-ciri patah hati pada umumnya, Philopobia juga bisa dikenali lewat gejala berikut ini:
- Merasa cemas saat ada seseorang yang mendekat untuk menjalin hubungan
- Merasa khawatir, jika ia memulai hubungan pasti akan berujung sakit hati dan berpisah
- Selalu berpikir ingin mengakhiri hubungan yang sudah terjalin
- Benar-benar tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, bagaimanapun pendekatannya
Meski tampak seperti biasa saja, namun Philopobia sejatinya juga berdampak pada kondisi fisik. Seseorang bisa saja mengalami gejala seperti pusing, mual, keringat dingin, detak jantung cepat, gemetar, sesak napas, dan lain-lain.
Cara Mengatasi
Karena berkaitan secara psikis, Philopobia umumnya bisa diatasi dengan berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater. Seseorang pengidap Philopobia akan diajak untuk menjalani terapi.
Seperti latihan pernapasan dan meditasi, yang bertujuan untuk mengurangi gejala cemas berlebih, sekaligus mengenali pikiran dan kebiasaan yang memicu ketakutan.
Kemudian menanamkan ide-ide jatuh cinta, dan mengeksplorasi hubungan percintaan yang nyaman dengan pikiran.
Selain itu, Philophobia juga bisa dialihkan dengan mengubah gaya hidup seseorang. Dengan melakukan gaya hidup yang baru dan lebih sehat, seseorang akan memungkinkan tetap dalam kondisi yang tenang dan lebih mudah menerima orang baru, baik sebagai teman dekat atau hubungan serius.
Itulah penjelasan tentang Philopobia. Jika Anda merasakan hal demikian, tidak ada salahnya untuk segera berkonsultasi dengan psikolog. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey