Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Jejak Sejarah Pohon Cemara yang Identik Digunakan sebagai Simbol Saat Perayaan Natal Tiba

Tina Mamangkey • Selasa, 19 Desember 2023 | 10:27 WIB
Ilustrasi pohon cemara identik digunakan setiap perayaan natal. Sumber foto: (Freepik @ArthurHidden)
Ilustrasi pohon cemara identik digunakan setiap perayaan natal. Sumber foto: (Freepik @ArthurHidden)

RADARPAPUA - Perayaan Natal di akhir tahun selalu dimeriahkan dengan berbagai ornamen menarik yang mempercantik berbagai tempat umum dan rumah.

Salah satu dekorasi utama yang mendominasi perayaan ini adalah pohon Natal, yang secara khas diidentifikasi dengan pohon cemara.

Dalam kilas balik sejarahnya yang dikutip dari radarjogja.jawapos.com pada Selasa (19/12), terungkap bahwa tradisi merias pohon Natal memiliki akar yang kaya, berhubungan dengan keyakinan dan praktik budaya kuno yang eksis jauh sebelum kehadiran kekristenan.

Pentingnya pohon dan tanaman yang daunnya tetap hijau selama musim dingin memiliki signifikansi khusus dalam berbagai budaya.

Sebagai contoh, di Eropa Utara, para Druid, imam Celt kuno, menghiasi kuil mereka dengan ranting hijau sebagai simbol kehidupan abadi.

Para Viking di Skandinavia menghormati mistletoe yang tetap hijau karena perannya dalam mitologi seputar Balder, dewa cahaya.

Tradisi pohon Natal yang dikenal saat ini sering dihubungkan dengan Jerman pada abad ke-16.

Orang-orang Kristen yang saleh di Jerman adalah yang pertama membawa pohon yang dihiasi ke dalam rumah mereka, menciptakan tradisi yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Pohon Natal berbentuk piramida dari kayu yang dihiasi dengan tanaman hijau dan lilin menjadi pemandangan umum di rumah-rumah.

Martin Luther, reformator Protestan abad ke-16, membawa inovasi baru dengan menghias pohon menggunakan lilin yang menyala, terinspirasi oleh kilau bintang di antara tanaman hijau pada suatu malam musim dingin.

Adopsi tradisi pohon Natal di Amerika mengalami hambatan, terutama karena pandangan keras pemimpin Puritan di Inggris.

Perayaan Natal dianggap tidak kudus, dan Gubernur William Bradford berusaha menekan apa yang dianggapnya sebagai "pengejekan pagan" terhadap perayaan itu.

Awal abad ke-20 menyaksikan pergeseran signifikan dalam dekorasi pohon Natal di Amerika.

Menghias pohon dengan hiasan buatan sendiri menjadi populer, dan orang-orang Jerman-Amerika melanjutkan tradisi dengan menggunakan apel, kacang, dan kue marzipan.

Popcorn yang dijalin, dicelupkan dalam warna-warni cerah, dan diselipkan di antara buah beri dan kacang memberikan sentuhan menawan pada dekorasi pohon.

Salah satu elemen transformatif dalam dekorasi pohon Natal adalah pengenalan listrik, yang membawa lampu Natal.

Inovasi ini memungkinkan pohon Natal bersinar lebih lama, meningkatkan popularitasnya secara luas.

Di seluruh negeri, alun-alun kota mulai menampilkan pohon Natal, dan memiliki pohon Natal di rumah menjadi tradisi Amerika yang sangat dihargai.

Dengan demikian, pohon Natal saat ini bukan sekadar simbol perayaan Natal, melainkan hasil perjalanan panjang dari keyakinan kuno hingga menjadi manifestasi kegembiraan dan kehangatan dalam merayakan Natal di seluruh dunia. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#natal #pohon cemara #makna #sejarah #pohon natal