Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Temuan Baru, Tembakau Alternatif Bukan Pintu Masuk untuk Merokok

Tina Mamangkey • Senin, 4 Maret 2024 | 14:26 WIB
Ilustrasi: Vape sebagai produk tembakau alternatif. (Encore Outpatient Services)
Ilustrasi: Vape sebagai produk tembakau alternatif. (Encore Outpatient Services)

RADARPAPUA - Riset dari Queen Mary University of London telah menegaskan bahwa produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik atau vape, serta produk tembakau yang dipanaskan, bukanlah pintu masuk untuk memulai kebiasaan merokok.

Para peneliti juga menemukan bahwa penggunaan produk tembakau alternatif tidak mendorong perilaku merokok.

Profesor Peter Hajek, Direktur Unit Penelitian Kesehatan dan Gaya Hidup di Queen Mary University of London, menjelaskan bahwa temuan dalam riset "Effects of reduced-risk nicotine-delivery products on smoking prevalence and cigarette sales: an observational study" (September 2023) menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif tidak berperan sebagai penyebab seseorang memulai merokok.

"Riset ini mengurangi kekhawatiran bahwa akses terhadap produk tembakau alternatif mendorong perilaku merokok. Tidak ada tanda-tandanya," ujar Profesor Peter, yang juga merupakan peneliti riset tersebut.

Menurutnya, penggunaan produk tembakau alternatif justru berhubungan dengan penurunan signifikan dalam tingkat perokok dan lebih cepat daripada sebelumnya.

Studi ini, yang dipublikasikan dalam Jurnal Public Health Research, membandingkan tingkat merokok dan penggunaan produk tembakau alternatif antara tahun 2004 dan 2019 di beberapa negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.

Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat merokok turun lebih cepat di Inggris dan Amerika Serikat, di mana penggunaan produk tembakau alternatif lebih banyak, dibandingkan dengan di Australia, di mana produk tersebut diatur dengan ketat.

Profesor Lion Shahab, Direktur Kelompok Penelitian Tembakau dan Alkohol di University College London, menyatakan bahwa analisis komprehensif dalam riset ini memberikan keyakinan bahwa negara-negara yang mengadopsi sikap lebih progresif terhadap produk tembakau alternatif tidak mengalami dampak negatif pada tingkat merokok.

"Produk tembakau alternatif merupakan salah satu opsi untuk beralih dari kebiasaan merokok. Oleh karena itu, penting untuk mengoptimalkan inovasi teknologi yang diterapkan pada produk ini untuk mengurangi angka merokok," tambahnya.

Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Oleh karena itu, produk tersebut direkomendasikan bagi perokok dewasa yang ingin berhenti.

Dalam konteks ini, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, menjelaskan bahwa produk tembakau alternatif tidak dimaksudkan untuk memperkenalkan seseorang pada merokok.

Namun, produk tersebut dapat membantu perokok dewasa dalam beralih dari kebiasaan merokok.

"Produk tembakau alternatif berkonsep untuk mengurangi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh konsumsi tembakau (tobacco harm reduction). Oleh karena itu, potensi produk tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dalam upaya menekan prevalensi merokok di Indonesia," ujarnya.

Selain memberikan edukasi yang komprehensif kepada masyarakat, Paido juga berharap agar pemerintah dapat mendukung akses yang aman dan bertanggung jawab terhadap produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#prevalensi merokok anak #iht #vape #tembakau alternatif #cht