RADARPAPUA -Surabaya, kota metropolitan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan sosial di Jawa Timur, menyajikan lanskap yang kaya akan keberagaman etnis dan budaya.
Dikenal sebagai kota pelabuhan terbesar di Indonesia, Surabaya telah menjadi tempat bagi berbagai suku dan etnis yang menetap dan berbaur dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik keramaian jalan-jalanannya, terselip cerita menarik tentang kehadiran empat suku dan etnis yang paling banyak menghuni kota ini.
1. Jawa:
Masyarakat Jawa memegang peranan penting dalam membentuk identitas Surabaya. Sebagian besar penduduk kota ini adalah suku Jawa, yang membawa warisan budaya dan tradisi khas mereka.
Dari kesenian tradisional hingga kuliner, pengaruh budaya Jawa dapat ditemukan di setiap sudut kota.
Bahasa Jawa sering kali terdengar di antara percakapan sehari-hari, sementara upacara adat seperti slametan dan perayaan hari besar Jawa tetap dijalankan dengan penuh kebanggaan.
2. Madura:
Kehadiran masyarakat Madura juga sangat kentara di Surabaya.
Terletak tidak jauh dari pulau Madura, Surabaya menjadi tempat transmigrasi yang signifikan bagi orang Madura.
Budaya Madura yang kental terlihat dari festival budaya, musik tradisional, dan tentu saja, olahraga adu banteng yang menjadi bagian integral dari identitas mereka.
Kuliner khas Madura seperti sate dan soto Madura juga telah menjadi favorit di antara penduduk setempat.
3. Tionghoa:
Komunitas Tionghoa memiliki sejarah panjang di Surabaya, yang dapat ditelusuri kembali hingga masa penjajahan Belanda. Mereka membawa kontribusi signifikan dalam bidang perdagangan, industri, dan seni.
Jalan-jalan seperti Pabean dan Kembang Jepun dipenuhi dengan bangunan bersejarah dan klenteng yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang komunitas Tionghoa di kota ini. Perayaan Imlek dan tradisi Tionghoa lainnya terus dihormati dan dirayakan dengan meriah setiap tahun.
4. Arab:
Komunitas Arab juga memainkan peran penting dalam keragaman etnis Surabaya. Mereka membawa kekayaan budaya Timur Tengah yang khas, serta warisan perdagangan yang berusia ratusan tahun.
Kehadiran mereka terutama terlihat di sekitar daerah Ampel, yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan keagamaan bagi masyarakat Arab. Masjid-masjid bersejarah dan toko-toko yang menjual barang-barang khas Timur Tengah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kota.
"Dari keempat suku dan etnis tersebut, tergambarlah kekayaan budaya dan keberagaman yang menjadi ciri khas Surabaya.
Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, penduduk kota ini hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan memperkaya satu sama lain.
Dalam pusaran dinamika urban, Surabaya terus menjaga warisan multikulturalnya sebagai salah satu aset terbesarnya, menjadi rumah bagi semua orang tanpa memandang asal usul mereka.(detik)
Editor : Nur Fadilah