RADARPAPUA -Suku Anak Dalam (SAD), suku yang hidup di pedalaman hutan Sumatera, menjadi saksi bisu dari pergulatan antara tradisi dan modernitas.
Mereka dipenuhi kekayaan budaya yang khas, namun juga terjerat dalam jaringan kesulitan hidup yang semakin meruncing di era modern ini.
Kehidupan SAD di era digital ini tidaklah mudah. Di tengah lahan yang semakin menyempit dan hasil hutan yang semakin berkurang, mereka harus berjuang keras untuk bertahan hidup.
Namun, tantangan terbesar mereka tidak hanya datang dari alam, melainkan juga dari manusia.
Satu di antara tantangan paling menyedihkan adalah seringnya mereka menjadi korban tipu.
Tanpa pendidikan formal, SAD mudah menjadi mangsa para tengkulak yang tak segan-segan memanfaatkan keterbatasan mereka.
Menurut Yori Sandi, seorang fasilitator lapangan dari Pundi Sumatra, "SAD menjadi sasaran empuk penipuan karena mereka tak memiliki kemampuan membaca, menulis, atau bahkan menghitung.
Keterbatasan dalam membaca, menulis, dan berhitung bukanlah pilihan bagi SAD, melainkan konsekuensi dari keputusan untuk tidak mengikuti sistem pendidikan formal.
Suku ini memang terkenal dengan keengganannya menerima budaya luar, termasuk sekolah.
Namun, ironisnya, keputusan tersebut membuka pintu bagi mereka menjadi korban yang rentan terhadap penipuan.
Kisah sedih SAD ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang pentingnya pendidikan dalam menjaga martabat dan melindungi masyarakat yang rentan.
Tanpa akses pendidikan yang layak, mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan eksploitasi.
Perjuangan SAD untuk bertahan hidup seharusnya menjadi panggilan bagi pemerintah dan masyarakat luas untuk memberikan perhatian lebih terhadap hak-hak dasar mereka, termasuk hak atas pendidikan.
Bukankah setiap anak memiliki hak untuk belajar dan berkembang, tanpa terkecuali?
Dalam era di mana pendidikan dianggap sebagai kunci kesuksesan, mari bersama-sama memastikan bahwa tidak ada lagi suku atau kelompok masyarakat yang terpinggirkan karena keterbatasan pendidikan.
Mari bersama-sama memberikan kesempatan yang adil bagi setiap individu untuk meraih masa depan yang lebih baik.(**)