Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Mengungkap Kearifan Lokal, 3 Upacara Adat Suku Tengger yang Tetap Bersemi

Nur Fadilah • Jumat, 10 Mei 2024 | 13:03 WIB

Ilustrasi upacara adat suku tengger. Foto: Pexels
Ilustrasi upacara adat suku tengger. Foto: Pexels

RADARPAPUA
-Indonesia adalah rumah bagi beragam budaya yang kaya dan beraneka ragam, salah satunya adalah Suku Tengger yang mendiami kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

Dalam kehidupan mereka, tradisi dan upacara adat memegang peranan penting, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai penjaga kebersamaan dan keharmonisan komunitas.

Mari kita telusuri 3 upacara adat Suku Tengger yang masih dilestarikan hingga saat ini:

1. Upacara Yadnya Kasada Upacara Yadnya Kasada menjadi salah satu puncak kegiatan adat yang dilakukan oleh Suku Tengger. Setiap tahun, ribuan orang dari suku ini berkumpul di kaki Gunung Bromo untuk memberikan persembahan kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam upacara ini, mereka melemparkan hasil panen dan hewan kurban ke dalam kawah gunung, sebagai ungkapan terima kasih atas berkah yang diberikan dan juga sebagai permohonan keselamatan serta keberkahan bagi komunitas mereka.

2. Upacara Ngunduh Mantu Upacara Ngunduh Mantu adalah ritual pernikahan dalam budaya Tengger yang dianggap sangat sakral. Dalam upacara ini, calon mempelai wanita diantar oleh keluarganya ke rumah calon mempelai pria untuk disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Prosesi ini tidak hanya melibatkan kedua keluarga, tetapi juga melibatkan dukungan dan partisipasi seluruh komunitas Tengger. Upacara ini menjadi simbol kebersamaan dan persatuan antara dua keluarga serta memperkuat hubungan antaranggota komunitas.

3. Upacara Jaran Kepang Upacara Jaran Kepang adalah bentuk seni pertunjukan yang juga memiliki nilai spiritual dalam budaya Tengger.

Dalam upacara ini, para penari yang memainkan peran sebagai kuda dalam tarian tradisional Jawa, disebut Jaran Kepang, dipercaya akan dihuni oleh roh-roh leluhur atau entitas spiritual lainnya.

Melalui gerakan yang menggambarkan kesaktian dan kekuatan, para penari menjalankan ritual ini sebagai bentuk penghormatan dan komunikasi dengan dunia gaib serta sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Tengger.

Melalui upacara-upacara adat seperti ini, Suku Tengger tidak hanya menjaga warisan budaya mereka tetap hidup, tetapi juga mengukuhkan identitas dan kebersamaan di tengah arus modernisasi yang terus mengalir.

Dengan memahami dan menghargai kekayaan budaya ini, kita dapat belajar banyak tentang nilai-nilai kearifan lokal dan pentingnya menjaga keberagaman budaya di Indonesia.(*)

Editor : Nur Fadilah
#bromo #Suku Tengger