Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Menjelajahi Tanah Toa, Kearifan Lokal Suku Kajang Ammatoa yang Menawan Hati

Nur Fadilah • Jumat, 31 Mei 2024 | 09:10 WIB

Ilustrasi Tanah Toa, bukan tempat sebenarnya. Sumber: pexels.com
Ilustrasi Tanah Toa, bukan tempat sebenarnya. Sumber: pexels.com

RADARPAPUA
-Indonesia, dengan keanekaragaman budaya dan suku bangsanya, menyimpan banyak cerita dan kearifan lokal yang belum banyak dikenal.

Salah satunya adalah Tanah Toa, sebuah wilayah di Sulawesi Selatan yang menjadi tempat tinggal Suku Kajang Ammatoa.

Komunitas ini tidak hanya dikenal karena keunikannya, tetapi juga karena kearifan lokal yang mereka jaga dengan teguh.

Letak dan Sejarah Singkat Tanah Toa

Tanah Toa terletak di Kabupaten Bulukumba, sekitar 200 kilometer dari Makassar. Wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Kajang yang terkenal dengan tradisi dan adat istiadat yang masih sangat kental.

Suku Kajang Ammatoa diyakini telah menghuni daerah ini selama ratusan tahun, menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang mereka.

Kearifan Lokal Suku Kajang Ammatoa

Suku Kajang Ammatoa memiliki sejumlah kearifan lokal yang menarik dan penuh makna, yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan mereka, seperti:

1. Sistem Kepercayaan dan Adat Istiadat

Suku Kajang Ammatoa memegang teguh kepercayaan tradisional yang disebut "Pasang ri Kajang". Ini adalah kumpulan ajaran, nasihat, dan petuah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pasang mengatur hampir semua aspek kehidupan, mulai dari cara bertani, berinteraksi dengan alam, hingga tata cara berhubungan dengan sesama manusia.

2. Gaya Hidup Sederhana

Kesederhanaan adalah prinsip utama dalam kehidupan masyarakat Kajang. Mereka dikenal dengan pakaian serba hitam, yang melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam.

Rumah-rumah mereka pun dibangun dengan bahan alami dan tanpa listrik, mencerminkan komitmen mereka untuk hidup harmonis dengan lingkungan.

3. Penghormatan terhadap Alam

Tanah Toa dan Suku Kajang Ammatoa memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam. Mereka percaya bahwa alam adalah ibu yang harus dihormati dan dijaga.

Oleh karena itu, mereka menerapkan sistem pertanian yang berkelanjutan dan menjaga hutan mereka dari eksploitasi yang berlebihan.

Hutan di Tanah Toa dianggap suci dan hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu dengan izin khusus.

4. Pemerintahan Tradisional

Struktur pemerintahan di Tanah Toa masih sangat tradisional. Pemimpin mereka, yang disebut Ammatoa, adalah figur sentral yang memegang otoritas dalam segala hal, mulai dari urusan adat hingga keputusan penting lainnya.

Ammatoa dipilih berdasarkan kebijaksanaan dan kedalaman pemahaman tentang Pasang.

"Seiring dengan perkembangan zaman, Suku Kajang Ammatoa menghadapi berbagai tantangan, seperti modernisasi dan tekanan ekonomi.

Namun, mereka tetap berusaha mempertahankan tradisi dan kearifan lokal mereka.

Pemerintah daerah dan beberapa organisasi non-pemerintah juga turut serta dalam upaya pelestarian ini, melalui berbagai program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

"Tanah Toa dan Suku Kajang Ammatoa merupakan contoh nyata dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dihargai dan dilestarikan.

Kearifan lokal mereka tidak hanya mengajarkan kita tentang kehidupan yang selaras dengan alam, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga warisan nenek moyang.

Dalam dunia yang semakin modern, tradisi dan nilai-nilai seperti yang dijaga oleh Suku Kajang Ammatoa menjadi harta yang tak ternilai harganya.(*)

Editor : Nur Fadilah
#Sulawesi Selatan #kearifan lokal #suku