RADARPAPUA - Sekitar 3.300 tahun yang lalu, beberapa orang pertama yang menemukan fosil prasejarah tinggal di Mesir. Cerita ini mungkin dimulai dengan badai pasir yang kuat yang menghempas pasir gurun, mengungkapkan rahasia yang tersembunyi di bawahnya: tulang hitam keras yang tampak seperti monster raksasa.
Kita hanya bisa membayangkan apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang menemukannya. Mereka tidak menulis tentang penemuan ini, atau jika mereka menulis, catatan itu telah hilang ditelan waktu. Yang kita tahu adalah apa yang mereka tinggalkan: sebuah makam yang penuh dengan fosil prasejarah, beberapa di antaranya berusia hingga dua juta tahun, tersembunyi sampai ditemukan pada tahun 1922 Masehi.
Makam Penuh Tulang Prasejarah
Butuh hampir satu abad penelitian untuk menemukan apa yang sebenarnya ditemukan di Mesir kuno. Ketika para arkeolog pertama kali menemukannya, mereka bahkan tidak sepenuhnya memahami apa yang telah ditemukan. Mereka hanya tahu bahwa mereka menemukan bungkusan yang dibungkus dengan kain linen, tanpa tahu apa yang ada di dalamnya.
Orang Mesir tidak memajang tulang-tulang ini. Sebaliknya, mereka membawanya ke sebuah makam yang dipotong dari batu dekat sebuah kota bernama Qau el-Kebir. Di sana, mereka memberikan tulang prasejarah yang besar ini pemakaman yang layak untuk bangsawan. Mereka membungkusnya dengan kain linen halus dan menempatkannya di makam, dikuburkan dengan alat gading untuk membantu mereka di alam baka.
Tiga Ton Fosil Dipindahkan
Kita masih tidak tahu di mana orang Mesir menemukan fosil-fosil ini. Pada tahun 1926, setelah fosil ditemukan, seorang ahli geologi bernama K. S. Sandford mencoba mencari asal-usul fosil ini dalam radius 500 mil dari Qau, tetapi tidak berhasil. Hingga saat ini, belum ada yang bisa memastikannya.
Yang kita tahu adalah bahwa fosil-fosil ini dipindahkan. Lebih dari tiga ton fosil ini dipindahkan melewati daerah liar, hanya untuk dikuburkan kembali. Pekerjaan ini pasti memerlukan usaha yang luar biasa dan melibatkan banyak orang.
Misteri yang Terus Berlanjut
Setelah lebih dari 3.000 tahun terkubur, fosil-fosil ini ditemukan oleh Guy Brunton dan Flinders Petrie, tetapi kemudian disimpan kembali dalam peti yang belum dibuka. Fosil-fosil ini baru diperiksa lagi pada tahun 2007 dengan bantuan teknologi pemindaian sinar-X yang bisa melihat isi bungkusan tanpa membukanya.
Pada akhirnya, pada tahun 2014, fosil-fosil ini diungkapkan. Di dalamnya terdapat tulang dari berbagai hewan yang telah punah: wildebeest raksasa, buaya, babi hutan, kuda, kerbau, dan bahkan manusia. Namun, yang paling banyak ditemukan adalah tulang kuda nil prasejarah – hewan yang berhubungan dengan dewa Set. Semua fosil ini telah dipoles oleh pasir sungai selama jutaan tahun hingga berkilau dengan warna hitam khas dewa kekacauan, Set.
Tulang Hitam Set
Tidak ada yang tahu pasti apa yang orang Mesir pikirkan tentang fosil-fosil ini, tetapi ada teori bahwa mereka percaya telah menemukan sisa-sisa dewa. Mereka mungkin berpikir bahwa fosil ini adalah tulang-tulang dewa kekacauan, Set, dan mereka rela melakukan apa saja untuk membawanya ke kuil.
Misteri yang Belum Terpecahkan
Hingga hari ini, kita masih belum tahu pasti apa arti fosil-fosil ini bagi orang Mesir kuno. Kita tidak tahu di mana mereka menemukan tulang-tulang ini, mengapa mereka menguburnya, atau mengapa tidak ada catatan tentang penemuan yang luar biasa ini.
Namun, sedikit demi sedikit, kita terus menemukan petunjuk yang memberi gambaran lebih baik tentang masa lalu kita – seperti yang dilakukan nenek moyang kita 3.300 tahun yang lalu. (*)