Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

TERNYATA Sayap Pinguin Adalah Hasil Evolusi! Berikut Penjelasannya

Prisilia Rumengan • Sabtu, 3 Agustus 2024 | 22:32 WIB
Ilustrasi Pinguin (pexels.com)
Ilustrasi Pinguin (pexels.com)

RADARPAPUA - Sebuah fosil penguin kecil yang ditemukan di Otago, Selandia Baru, memainkan peran penting dalam memahami evolusi penguin. Menurut sebuah studi yang diterbitkan di Journal of the Royal Society of New Zealand, fosil yang diperkirakan berusia sekitar 24 juta tahun ini memperkenalkan spesies baru, Pakudyptes hakataramea. Penguin ini seukuran dengan penguin biru kecil, penguin terkecil di dunia, dan memiliki adaptasi anatomi khusus yang memungkinkannya untuk menyelam.

 

 

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Tatsuro Ando, yang kini bekerja di Museum Paleontologi Ashoro, Jepang. Dr. Ando, sebelumnya adalah kandidat PhD di Universitas Otago, berkolaborasi dengan peneliti dari Otago, Universitas Sains Okayama, dan Universitas Osaka. Inspirasi untuk penelitian ini berasal dari diskusi dengan almarhum Profesor Ewan Fordyce, yang merupakan mentor Dr. Ando di Otago.

 

  

Studi ini memfokuskan pada analisis tiga tulang yang ditemukan oleh Profesor Fordyce di Lembah Hakataramea, South Canterbury: humerus, femur, dan ulna. Dr. Ando menyatakan bahwa Pakudyptes mengisi kesenjangan morfologi antara penguin modern dan penguin fosil.



Salah satu temuan signifikan adalah perbedaan bentuk tulang sayap Pakudyptes. Sendi bahu fosil ini menyerupai penguin modern, sementara sendi siku lebih mirip dengan penguin fosil yang lebih tua. Kombinasi unik ini menjadikan Pakudyptes fosil penguin pertama yang ditemukan dengan ciri-ciri campuran ini, yang merupakan kunci dalam memahami evolusi sayap penguin.



Dr. Carolina Loch dari Fakultas Kedokteran Gigi Otago menyatakan bahwa analisis struktur internal tulang Pakudyptes menunjukkan karakteristik mikroanatomi yang mendukung kemampuan menyelam, mirip dengan penguin modern. Meskipun tulangnya tebal, rongga medular yang terbuka, seperti yang terlihat pada penguin biru kecil modern yang sering berenang di perairan dangkal, mengindikasikan adaptasi menyelam.

 

Kemampuan menyelam dan berenang *Pakudyptes* didukung oleh struktur tulangnya yang memungkinkan perlekatan otot dan ligamen, menunjukkan bagaimana sayap digunakan untuk berenang dan bermanuver di bawah air. Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang keragaman ekologi penguin pada masa lalu dan evolusi cepat mereka dari Oligosen Akhir hingga Miosen Awal.



Dengan ukuran kecil dan kombinasi unik dari struktur tulangnya, Pakudyptes hakataramea memberikan kunci penting untuk memahami evolusi penguin serta memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah kehidupan burung laut ini.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#evolusi alam semesta #artefak #sayap #pinguin #penemuan #arkeologi #Arkeologi Bawah Air #Evolusi